|
KEHIDUPAN SITI FATHIMAH RA
DI MEKAH
Sejak
kecil Siti Fathimah telah mendapat pendidikan langsung dari
ayahnya. Beliau dibesarkan ditengah-tengah keluarga Nubuwah.
Itulah sebabnya, beliau mewarisi sifat-sifat mulia baginda
Rasulullah saw, baik Al Akhlaqul Karimah dan sifat-sifat baik
yang lain yang dimiliki Rasulullah yang telah mendapat didikan
langsung dari Allah SWT. Rasulullah saw bersabda:
أدبنى ربى فاحسن تاديبى
(
الجامع الصغير :1 ص 14 )
"Saya telah
dididik oleh Tuhanku dengan sebaik-baik pendidikan."
(Aljami' As Shoghir Juz I hal. 14)
Begitu
pula apa yang dirasakan oleh Rasulullah berupa gangguan dan
godaan serta intimidasi dari Kuffar Quraisy, ikut pula dirasakan
oleh Siti Fathimah ra. Beliau benar-benar tersiksa melihat
ayahnya selalu diganggu dan diejek oleh orang-orang Kuffar. Tapi
beliau tidak tinggal diam, dengan segala kemampuannya beliau
membela Rasulullah saw dari gangguan Kuffar Quraisy.
Diantara perbuatan
jahat musyrikin Quraisy kepada Rasulullah saw dan keluarganya
adalah pembeikotan total yang mereka lakukan.
Tiga tahun lamanya Rasulullah saw
bersama keluarganya dan Bani Hasyim yang dipimpin oleh Abu
Thalib disekap di Syi'ib. Mereka dibekot total di dibidang
ekonomi maupun di bidang sosial. Mereka diisolir dari kehidupan
masyarakat lain. Sehingga merupakan siksaan yang tidak ada
taranya, sampai-sampai mereka makan daun-daunan yang ada di
sekitar Syi'ib tersebut. Banyak dari mereka yang tidak tahan
sampai jatuh sakit. Benar-benar merupakan tindakan yang sangat
kejam dan tidak berperikemanusiaan.
Apa yang menimpa Rasulullah dan
kerabatnya itu, juga dialami dan dirasakan oleh Siti Fathimah.
Bahkan beliau sampai jatuh sakit, badannya semakin kurus,
sehingga ibunya Siti Khadijah sangat khawatir akan keadaan dan
keselamatan putrinya yang masih kecil itu.
Untung tidak lama kemudian, pembekotan
tersebut berakhir. Namun penderitaan yang menimpa Rasulullah saw
itu, tidak berhenti sampai disitu, sebab tidak lama setelah
pembekotan tersebut, pamannya (Abu Thalib) yang selalu berada di
depan dalam membela Rasulullah saw itu meninggal dunia. Sungguh
merupakan penderitaan yang luar biasa, sebab pamannya itu, juga
merupakan ayah angkatnya yang telah memeliharanya sejak kecil.
Tidak lama kemudian, yaitu setelah
tiga hari pamannya meninggal, istri tercintanya (Siti Khadijah)
meninggal juga. Benar-benar satu ujian dari Allah kepada
Rasulullah saw. Hal ini membuat Rasulullah saw sangat sedih.
Sebab istrinya itu merupakan satu-satunya orang yang selalu
mendampinginya dan membantunya. Beliau telah mengorbankan harta
bendanya serta seluruh kekayaannya dalam membela Rasulullah saw.
Di samping itu beliau sangat membantu Rasulullah saw dalam
menyebarkan risalahnya terutama kepada kaum wanita. Itulah
sebabnya mengapa Rasulullah saw sangat sedih dengan kematian
istrinya, sehingga tahun itu dalam sejarah Islam, disebut
sebagai Amul Huzun atau tahun kesedihan.
Apa yang dirasa oleh Rasulullah saw
juga dirasakan oleh Siti Fathimah. Beliau sangat terpukul dengan
kematian ibunya. Seorang yang merawatnya dan menjaganya serta
memberikan kasih sayangnya. Hal ini membuat beliau selalu
dirundung rasa sedih yang membuat badannya semakin kurus.
Penderitaan yang beruntun dan
bertubi-tubi itu dirasakan berat sekali oleh Siti Fathimah. Tapi
apa yang dapat dikata, sebab semua ini adalah merupakan resiko
yang harus diterimanya sebagai putri seorang Rasul.
Mengenai keutamaan Ummul Mu'minin Khadijah Al Kubro, ibu Siti
Fathimah tersebut, maka dalam kitab sahih Bukhari diriwayatkan:
"Pada
suatu hari Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah saw dan
berkata: "Ya Rasulullah itu Khadijah datang membawa wadah berisi
kuah, makanan atau minuman. Bila dia menghadapmu, maka
sampaikanlah kepadanya salam dari Tuhannya dan dariku. Kemudian
sampaikan kepadanya berita gembira (Bisyarah) bahwa dia sudah
disediakan sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara,
dimana disitu tidak ada suara keributan dan kepayahan."
Setelah
berita tersebut disampaikah oleh Rasulullah saw kepada istrinya,
maka Ummul Mu'minin Khadijah menjawab: "Allah adalah As Salam
(pemberi keselamatan dan kesejahteraan) dan darinya berasal As
Salam dan kepada Jibril diberikan As Salam." (Bukhari)
Adanya berita gembira tersebut membuat
Siti Fathimah dan saudara-saudaranya merasa gembira. Memang apa
yang disampaikan oleh Malaikat Jibril tersebut sangat layak dan
tepat, mengingat jasa beliau dalam membela dan membantu
Rasulullah saw. Beliau korbankan harta bendanya serta seluruh
kekayaannya dalam membiayai perjuangan suaminya menyebarkan
agama Allah.
Hal lain mengenai keutamaan Ummul
Mu'minin Khadijah Al Kubro adalah bahwa beliau itu termasuk
salah satu dari empat wanita penghuni surga yang paling afdhol
(mulia).
Rasulullah saw pernah bersabda:
"Wanita-wanita penghuni surga yang paling afdhol (mulia) adalah
Khadijah binti Khuwaillid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti
Imron dan Asiyah binti Muzahim." (HR. Tirmidzi dan Ahmad).
Demikian Ummul Mu'minin Khadijah, ibu Siti Fathimah ra, seorang
yang telah mendapat Fadhel Ikhtishos dari Allah SWT. Beliau
telah pergi meninggalkan Siti Fathimah dan seluruh keluarganya.
Sehingga dalam waktu yang sangat singkat, hanya selang tiga hari
Rasulullah saw kehilangan dua orang yang sangat berjasa,
Khadijah istrinya dan Abu Thalib pamannya.
"Inna lillah Wainna Ilaihi Roojiun"
Sepeninggal Abu Thalib, orang-orang musyrikin Quraisy semakin
berani dalam melancarkan gangguan dan penganiayaan terhadap
Rasulullah saw. Rasulullah saw pernah bersabda: "Orang-orang
Quraisy tidak dapat berbuat yang tidak kusukai terhadap diriku,
kecuali setelah Abu Thalib wafat."
Apa yang mereka lakukan, baik yang
berbentuk ejekan, cemohan, penghinaan dan perbuatan jahat yang
lain, tidak lain tujuannya untuk membendung da'wah risalahnya.
Bahkan salah seorang dari mereka ada yang sampai mencampakkan
pasir ke wajah Rasulullah saw. Tapi beliau tetap sabar dan
tabah. Beliau pulang kerumahnya dengan wajah dan kepala penuh
pasir dan debu.
Begitu Siti
Fathimah melihat ayahnya
dalam keadaan yang sangat menyedihkan itu, dengan hati
tersayat-sayat Siti Fathimah segera membersihkan wajah dan kepala
ayahnya, kemudian mengambil air dan membasuhnya. Beliau sampai
menangis memikirkan kekejaman orang-orang kafir terhadap
ayahnya.
Melihat putri tersayangnya itu
menangis, Rasulullah saw segera menasihati, agar putrinya lebih
sabar dan tawakkal kepada Allah. Dengan rasa haru, beliau
membelai kepala anaknya sambil berkata: "Janganlah menangis,
wahai anakku."
Tidak sampai disitu saja gangguan
Kuffar Quraisy kepada Rasulullah saw, tapi mereka semakin gencar
mengganggu Rasulullah saw. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
Pada suatu ketika Rasulullah saw
sedang berada di Ka'bah bersama Abdullah bin Mas'ud, Suhaib bin
Sinan Ar Rumy dan Ammar bin Yasir ra. Tidak jauh dari tempat
mereka berada, sedang duduk-duduk segerombolan Kuffar Quraisy.
Diantaranya Amer bin Hisyam (Abu Jahal), Uqbah bin Abi Muit,
Utbah bin Robiah, Umayyah bin Khalaf, Syaibah bin Rabiah dan
beberapa tokoh Quraisy yang lain.
Pada saat mereka melihat Rasulullah
sedang bersembahyang, maka berkatalah Amer bin Hisyam:
"Lihatlah apa yang sedang dilakukan oleh Muhammad.
Tidak adakah diantara kalian yang mau pergi ke tempat pemotongan
hewan dan mengambil kotoran hewan. Kemudian nanti apabila dia
sujud lagi, kita letakkan kotoran binatang itu dibahunya “.
Segera salah seorang yang terkenal jahat dalam
kerumunan itu, yang bernama Uqbah bin Abi Muit mengambil kotoran
binatang dan kemudian melemparkannya ke punggung Rasulullah saw
yang sedang sujud.
Perbuatan yang sangat biadab itu
disambut dengan gelak tawa oleh teman-temannya yang sedang
menyaksikan perbuatan keji itu.
Karena tidak berdaya melihat perbuatan
yang keji itu, maka Suhaib Ar Rumy segera pergi ke rumah
Rasulullah untuk menemui Siti Fathimah, serta memberitahu apa
yang sedang menimpa ayahnya.
Setelah mendengar berita tersebut, Siti
Fathimah segera menuju ke Ka'bah, dimana ayahnya sedang berada.
Begitu sampai ditempat Rasulullah yang sedang sujud itu, Siti
Fathimah segera mengambil dan membersihkan kotoran tersebut dari
badan Rasulullah saw.
Selanjutnya, setelah membersihkan
kotoran dari badan ayahnya, Siti Fathimah segera menghampiri
gerombolan Kuffar Quraisy tersebut, seraya marah kepada mereka.
Sedang Rasulullah Saw, setelah
kotoran-kotoran hewan tersebut dibersihkan dari badannya,
Rasulullah Saw masih melanjutkan shalatnya dan disaat berdiri
dalam shalatnya, terdengar beliau berdo'a kepada Allah SWT, agar
orang-orang Kuffar yang mengganggunya itu diberi azab sebagai
balasan atas perbuatan mereka. Bahkan dalam berdo'a itu
Rasulullah saw menyebut satu persatu nama-nama mereka.
Mendengar Nabi berdo'a akan kehancuran
mereka, maka terhentilah gelak tawa mereka dan masing-masing
berubah ketakutan.
Akibat dari do'a Rasulullah tersebut,
kebanyakan dari mereka mati di perang Badar.
Demikian sedikit dari kehidupan siti
Fathimah di Mekkah dan pembelaan beliau kepada ayahnya dari
gangguan orang-orang Kuffar Quraisy.
|