Sakitnya Rosululloh SAW

Peristiwa Hari Kamis Dan Sayyidina Ali kw

 

 

Sejak pulang dari menunaikan ibadah Haji, kesehatan Rosululloh SAW mulai menurun, rupanya beliau sudah merasa bahwa ajalnya sudah dekat. Karenanya banyak dari kata kata beliau isinya banyak berupa pesan pesan dan menandakan perpisahan.

Pada mulanya meskipun beliau dalam keadaan sakit, tapi beliau masih tetap keliling kerumah istri istrinya, setiap malam beliau pindah dari rumah istri yang satu ke rumah istri yang lain. Dan baru setelah sakitnya agak berat beliau meminta ijin kepada istri istrinya untuk dirawat dan menetap tinggal dirumah Siti Aisyah ra.

Rumah Ummul Mukminin Aisyah ra ini, mempunyai dua pintu, satu menghadap ke lorong atau Khoukhoh Ali, dan pintu yang satu lagi tembus ke Masjid Nabawi. Dan dari pintu inilah baginda Rosululloh SAW pernah diwaktu sakit dipapah oleh Sayyidina Ali kw dan Sayyidina Abbas ra, melihat atau menyaksikan para Sahabat yang sedang Sholat dan diimami oleh Sayyidina Abubakar Ash Shiddiq ra..

 

Siang malam para Ummul Mu’minin menjaga dan merawat Rosululloh SAW, juga tidak ketinggalan putri tercintanya Siti Fathimah ra selalu kelihatan disampingnya.

Menurut para ulama beliau Rosululloh SAW sakit selama tiga belas hari dari hari rabo tanggal 28 Sofar dirumah Ummul Mu’minin Maimunah ra.

 

Selama dirawat dirumah Siti Aisyah ra banyak hal hal yang terjadi serta banyak perintah dan pesan dari Rosululloh SAW yang diberikan kepada para Sahabat dan keluarganya.

Diantaranya adalah apa yang dikenal dengan Bisikan Rahasia yang disampaikan Rosululloh SAW kepada Siti Fathimah ra.. Kemudian perintah Rosululloh SAW kepada Sayyidina Abubakar ra, untuk menggantikan beliau dalam mengimami Sholat di Masjid. Begitu pula peristiwa yang terkenal dengan Roziyyah Yaumul Khomis, dimana baginda Rosululloh SAW saat itu meminta diambilkan kertas dan tinta untuk menulis sesuatu. Juga perintah beliau kepada Usamah bin Zeid untuk menjadi panglima dan segera berangkat dalam peperangan menghadapi tentara Romawi  dll.

 

Namun diantara hal hal yang terjadi saat beliau sedang sakit dan perlu kami sampaikan disini adalah peristiwa saat Rosululloh SAW meminta kertas dan tinta untuk menulis seseatu.

Sebenarnya peristiwa ini adalah peristiwa biasa, tapi oleh orang orang Syi’ah peristiwa ini dibesar besarkan dan dideramatisir serta dibuat sebagai alasan untuk menyerang para Sahabat terutama menyerang dan mendiskriditkan Sayyidina Umar Ibnul Khottob  ra. 

 

Peristiwa ini terjadi pada hari kamis dan dikenal dengan Roziyyah Yaumil Khomis. Cerita tersebut dimuat didalam kitab kitab Hadits umat Islam seperti kitab Bukhori dll  Dan Syarahnya atau apa yang dimaksud dengan Hadits tersebut dapat dibaca dalam kitab Fat’hul Bari.

 

Adapun yang dimaksud dengan Hadits tersebut sbb;

Peristiwa tersebut terjadi pada hari kamis tanggal delapan Robiul Awal tahun sebelas Hijriyyah. Saat itu baginda Rosululloh SAW sedang sakit, dimana suhu badannya atau panas badannya sangat tinggi. Hari itu beliau sudah dirawat dirumah Ummul Mu’minin Aisyah ra.

Pada waktu itulah  baginda Rosululloh SAW meminta kepada keluarganya yang ada saat itu disampingnya untuk mengambilkan kertas dan tinta untuk menulis sesuatu. Namun apa yang akan ditulis oleh Rosululloh SAW saat itu, hanya Alloh SWT yang tahu, sebab Rosululloh SAW mengurungkan niatnya untuk menulis dan sampai wafatnya beliau tidak pernah menyampaikan apa yang akan beliau tulis saat itu.

 Karena saat itu beliau berada dirumahnya, maka otomatis permintaan tersebut ditujukan kepada keluarganya.

Dengan demikian yang berhak dan bisa mengambilkan dan memberikan kertas dan tinta atau sebaliknya tidak memberikan permintaan tersebut adalah keluarga Rosululloh SAW, sebab mereka adalah Ahlul Bait atau keluarga Rosululloh SAW yang bisa masuk mengambil dan memberikan kepada Rosululloh SAW.

Jadi yang berhak dan bisa memberi atau menolak permintaan Rosululloh SAW tersebut bukan para tamu atau para Sahabat yang kebetulan berada diruangan itu, termasuk Sayyidina Umar ra yang saat itu ada disitu, tapi yang berhak dan bisa mengambilkan adalah keluarga Rosululloh SAW.

Adapun Sayyidina Umar ra yang saat itu kebetulan berada diruangan itu dan berpendapat atau memberikan saran agar Rosululloh SAW istirahat saja dan sementara mengurungkan niatnya untuk menulis sesuatu, dikarenakan melihat kondisi Rosululloh SAW saat itu yang sedang sakit keras serta didorong rasa cinta dan sayangnya  kepada Rosululloh SAW yang sekaligus sebagai menantunya, yang saat itu kelihatan lemah dan sedang sakit serta demam tinggi.

Saran yang baik dan memang masuk akal tersebut ternyata membuat pro dan kontra dalam keluarga Rosululloh SAW, sehingga sebagian keluarga Rosululloh SAW ada yang sependapat dengan saran Sayyidina Umar ra tersebut dan sebagian tidak sependapat.

 Sehingga ketika suara gaduh dan ribut serta silih pendapat tersebut terdengar oleh Rosululloh SAW, maka beliau Rosululloh SAW akhirnya mengurungkan niatnya untuk menulis.

 

Selanjutnya oleh karena beliau Rosululloh SAW harus  beristirahat dan mungkin istri istrinya serta putrinya akan masuk keruangan tersebut, maka orang orang (laki laki) yang ada didalam ruangan yang sangat kecil itu diminta untuk keluar.

Demikian cerita peristiwa hari kamis yang dimuat dikitab kitab ummat Islam.

 

Adapun keterangan ulama ulama Syi’ah yang mengatakan saat itu Rosululloh SAW akan menulis wasiat untuk mengangkat Imam Ali kw sebagai penggantinya, maka rupanya ulama ulama itu sudah tahu apa yang ada didalam hati Rosululloh SAW, meskipun belum diutarakan dan ditulis oleh Rosululloh SAW. Maklum mereka kan mendudukkan dirinya lebih tinggi dari para Rosul.

Apabila tuduhan ulama ulama Syiah itu benar, pasti Rosulululloh SAW tidak akan membatalkan wasiat pengangkatan Sayyidina Ali kw tersebut. Sebab setelah kejadian hari kamis tersebut, Rosululloh SAW masih memberikan wasiat atau pesan pesan, diantaranya agar Jazirah Arabia dibersihkan dari Musyrikin.

 

Sebenarnya keterangan ulama ulama Syi’ah yang seperti itu justru menggugurkan keyakinan mereka bahwa Rosululloh SAW sudah mengangkat Imam Ali kw sebagai penggantinya di Ghodir Khum. Karena apabila Rosululloh SAW sudah berwasiat mengangkat Imam Ali kw sebagai penggantinya di Ghodir Khum, lalu untuk apa Rosululloh SAW wasiat mengangkatnya lagi. Itulah ajaran Syi’ah, saling berbenturan antara ajaran yang satu dengan yang lain.

Begitu pula yang dituduhkan kepada Sayyidina Umar ra, dimana mereka mengatakan bahwa Sayyidina Umar ra menyampaikan sarannya tersebut dikarenakan Sayyidina Umar ra sudah tahu bahwa yang akan ditulis oleh Rosululloh SAW itu adalah wasiat pengangkatan Sayyidina Ali kw sebagai Kholifah, maka hal itu merupakan kebiasaan mereka yang suka menuduh dan memfitnah para Sahabat. Jangankan para Sahabat, Rosululloh SAW sendiri tidak luput dari tuduhan tuduhan mereka.

 

Pembaca yang kami hormati.

Andaikata Rosululloh SAW pada hari kamis itu benar benar akan mengangkat Sayyidina Ali kw sebagai penggantinya, kira kira yang lebih tahu itu Sayyidina Ali kw yang setiap hari berkumpul dengan Rosululloh SAW,  apa Mulla Mulla Syi’ah yang kerjanya hanya mencaci maki para Sahabat, mertua, menantu dan istri istri Rosululloh SAW ?.

Sebab ternyata Sayyidina Ali kw belum pernah menyebut atau memberikan keterangan mengenai kejadian hari kamis tersebut sebagai rencana Rosululloh SAW untuk mengangkatnya sebagai Kholifah. Sebagaimana yang diyakini dan disampaikan oleh Mull Mulla Syi’ah tersebut.

 

Argumentasi diatas diperkuat oleh keterangan Ibnu Abbas ra, dimana beliau pernah berkata:

أَنَّ عَلِيّ بِنْ أَبِي طَالِبْ خَرَجَ مِنْ عِنْدِ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم فِي وَجْعِهِ الَذِي تُوْفِّيَ فِيْهِ، فَقَالَ النَّاسْ: يَا أَبَا حَسَنْ، كَيْفَ أَصْبَحَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم؟  فَقَالَ: أَصْبَحَ بِحَمْدِ الله بَارِئًا.  قال اِبْنُ عَبَّاسْ: فَأَخَذَ بِيَدِهِ عَبَّاس اِبْنُ عَبْدُ المُطّلِب فقال: أَلاَ تَرَى أَنْتَ؟ وَاللهِ اِنِّي أَعْرِفُ وُجُوهَ بَنِي عَبْدُ المُطَِّّلبْ عِنْدَ المَوْتْ، فَاذْهَبْ بِنَا عِنْدَ رَسُول الله صًلى الله عليه وسلم  فَلْنَسْئَلُهُ فِيْمَنْ هَذَا الأَمْر؟ فَاِنْ كَانَ فِيْنَا عَلِمْنَا ذَلِكْ، وَاِنْ كَانَ فِى غَيْرِنَا كَلَّمْنَاهُ فَأَوْصَى بِنَا. فقال عَلِيّ: وَاللهِ لَئِنْ سَأَلَناهَا رَسُول الله صلى الله عليه وسلم فَمُنِعْنَاهَا، لاَ يُعْطِيْنَاهَا النَاس أَبَدًا، فَوَ اللهِ لاَ أَسْأَلُهُ أَبَدًا.

                        (رواه البخارى، مسند امام أحمد:  4 – 2374)

 

“Ali bin Abi Tholib keluar dari tempat Rosululloh SAW, saat beliau sedang sakit yang membuatnya meninggal. Maka para Sahabat bertanya, Wahai Abu Hasan, bagaimanakah keadaan atau kondisi Rosululloh SAW?. Ali menjawab, Alhamdulillah, pagi ini beliau enakan“. Selanjutnya Ibnu Abbas berkata: “Maka Abbas bin Abdul Muttholib memegang tangan Ali dan berkata; Apakah kamu tidak melihatnya?. Demi Alloh, aku melihat wajah Bani Abdul Muttholib layu apabila akan meninggal. Karenanya ayo kita menemui Rosululloh SAW untuk menanyakan tentang siapakah yang akan diserahi kepemimpinan sesudahnya?. Jika hal itu diserahkan pada kita, maka kita akan tahu. Dan jika selain kita, maka kita akan menyampaikan kepada beliau untuk mewasiatkan kepada kita. Maka Ali segera berkata (menjawab); Demi Alloh, Jika kita minta kepada Rosululloh, lalu beliau menolaknya, maka selamanya orang orang tidak akan memberikannya pada kita, demi Alloh aku tidak akan menanyakan hal itu kepadanya”.

                                             (HR Bukhori, Musnad Imam Ahmad: 4 – 2374)

 

Argumentasi diatas juga diperkuat oleh riwayat yang disampaikan Imam Bukhori dan Imam Muslim dalam Sahihnya. Dalam riwayat tersebut dikatakan,  bahwa pada saat sakitnya, Nabi yang ketika itu berada di sisi Siti Aisyah ra bersabda:

 

اِدْعِى لِى اَبَاكِ وَأَخَاكِ حَتَّى أَكْتُبْ لََهُمْ كِتَابًا، فَاِنِّى أَخَافُ أَنْ يَتَمَنَّى مُتَمَنٍّ وَيَفُولُ قَائِلٌ: أَنَا أَوْلََى، وَيَأْبَى الله وَالمُؤْمِنُونْ اِلاَّ أَبَابَكَرْ.

                                                      (بخارى و مسلم)

 

 "Panggilkan kemari ayah dan saudaramu agar kudiktekan sebuah pesan (surat wasiat), sebab aku khawatir akan ada orang yang berangan-angan dan mengatakan yang bukan-bukan, sementara Allah dan kaum Mukminin tidak menerima selain Abu Bakar."                                              

                                                      ( Bukhori dan Muslim)

 

Sebenarnya jika melihat Hadits ini justru menguatkan, apabila Rosululloh SAW pada hari kamis tersebut akan mengangkat seseorang atau menunjuk seseorang sebagai Kholifah, maka dari Hadits ini jelas menunjukkan bahwa yang akan diangkat sebagai Kholifah adalah Sayyidina Abubakar ra.

 

Tapi kita Ahlussunnah Wal Jamaah tetap berkeyakinan bahwa Rosululloh SAW tidak pernah dengan jelas mengangkat seseorang sebagai penggantinya.

Hal ini sesuai dengan keterangan Kholifah Umar ra ketika akan mengangkat Majlis Syuro dimana beliau berkata: Apabila aku menunjuk seseorang sebagai penggantiku maka hal itu sudah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (yang dimaksud adalah Kholifah Abubakar ra) dan apabila aku tidak menunjuk seseorang sebagai penggantiku, maka hal itu juga telah dilakukan oleh orang yang jauh lebih baik dariku (yang dimaksud adalah Rosululloh SAW).

 

Demikian pula yang telah dilakukan oleh Amiril Mu’minin Ali bin Abi Tholib kw ketika pengikutnya memintanya agar beliai mengangkat Sayyidina Hasan ra sebagai penggantinya, maka beliau berkata:

 

لاَ اَمُرُكُمْ وَلاَ اَنْهَاكُمْ، اَتْرُكُكُمْ كَمَا تَرَكَكُمْ رَسُولُ الله

                               (  رواه  احمد )

     

  Saya tidak memerintahkan kalian dan saya juga tidak melarang kalian, saya tinggalkan kalian sebagaimana Rosululloh meninggalkan  kalian.                              ( H.R. Ahmad )

 

        Yang dimaksud oleh Amirul Mu’minin Ali bin Abi Tholib kw adalah, bahwa beliau tidak mau menunjuk seseorang sebagai Kholifah penggantinya, hal mana dikarenakan beliau mengikuti jejak Rosululloh SAW, dimana Rosululloh SAW  tidak pernah menunjuk seseorang sebagai Kholifah penggantinya.

 

Demikian hal hal penting yang terjadi diwaktu Rosululloh SAW sedang sakit dirumah Ummul Mu’minin Aisyah ra.

 

Semoga kajian diatas bermanfaat bagi kita.

 

***