SAYYIDINA  ALI  KW   DAN  PERANG  TABUK

 

 

Dalam Kitab Shohih Bukhori diriwayatkan, bahwa Rosululloh SAW pernah bersabda kepada Sayyidina Ali kw sbb;

اَمَا تَرْضَى اَنْ تَكُونَ مِنِّى بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى  اِلاَّ أَنَّهُ لاَ نَبِيَّ  بَعْدِى.

                                                    ( رواه البخارى ومسلم )  

 

Apakah engkau tidak suka kedudukanmu terhadapku seperti kedudukan Harun terhadap Musa. Hanya saja tidak ada Nabi sesudahku.                                         

                                                     ( HR Bukhori dan Muslim )

 

Hadist ini sering dipakai oleh golongan Syi’ah sebagai dalil penun’jukan Sayyidina Ali kw sebagai Kholifah apabila Rosululloh SAW wafat.

Padahal Hadist ini tidak ada hubungannya dengan kekholifahan. Sebab Harun adalah seorang Nabi yang diutus oleh Alloh SWT, sedang Sayyidina Ali kw bukan Rosul dan bukan Nabi.  Kemudian Nabi Harun wafat lebih dahulu sebelum Nabi Musa wafat, sedang Sayyidina Ali kw wafat sesudah Rosululloh SAW wafat. Jadi Hadist ini jelas tidak ada hubungannya dengan kekholifahan sesudah Rosululloh SAW wafat.

 

Lalu apa yang dimaksud dengan Hadist tersebut.

 

Adapun Asbabul Wurud dari Hadist tersebut, atau sebab kejadian sampai Rosululloh SAW bersabda yang demikian itu sbb:

 

Pada bulan Rajab tahun sembilan Hij’riyyah, Rosululloh SAW bersama Para Sahabat berangkat ke Tabuk untuk berperang melawan tentara Romawi yang ada di Tabuk. Sebab saat itu Tabuk berada dibawah kekuasaan Romawi.

Hampir seluruh penduduk Madinah ikut berangkat berperang, terkecuali orang orang perempuan dan anak anak serta orang orang yang lan’jut usia atau orang orang yang udhur.

Seperti biasanya, apabila Rosululloh SAW akan pergi berperang keluar kota Madinah, beliau selalu mengangkat seorang pejabat sebagai wakilnya, guna mewakilinya selama beliau dalam pepergian. Dan apabila menggunakan istilah sekarang adalah pejabat ad interim.

Beberapa orang Sahabat pernah ditunjuk oleh Rosululloh SAW sebagai pejabat ad interim, diantaranya Sahabat Ibnu Ummi Maktum diangkat saat Rosululloh SAW akan berperang dengan Bani Nadhir, Sayyidina Usman bin Affan ra menantu Rosululloh SAW diangkat sebagai pejabat ad interim saat perang Dhaturriqo’ dan Sahabat Aba Lubabah bin Abdul Mundhir ditunjuk saat perang Badar.

Itulah diantara nama nama para Sahabat yang pernah men’jabat ed intrim, yang ditun’juk oleh Rosululloh SAW pada saat Rosululloh Saw akan berperang keluar kota.

Kali ini, yaitu dalam perang Tabuk, yang ditunjuk oleh Rosululloh SAW sebagai pejabat ad interim adalah Sayyidina Ali kw, menantunya, ayah dari Al Hasan ra dan Al Husin ra.

 

Namun ketika Rosululloh SAW bersama pasukannya baru saja meninggalkan Madinah, orang orang Munafigin yang ada di Madinah menghembuskan berita bohong, bahwa Rosululloh SAW sengaja meninggalkan Sayyidina Ali kw bersama kaum wanita dan anak anak. Bahkan ada suara yang mengatakan bahwa Rosululloh SAW meninggalkan Sayyidina Ali kw bersama kaum wanita dan anak anak itu karena Rosululloh SAW tidak suka kepada Sayyidina Ali kw.

 

Selanjutnya ketika Sayyidina Ali kw mendengar berita bohong tersebut, beliau segera menyusul ( mengejar ) rombongan dan segera menghadap Rosululloh SAW, guna menanyakan mengenai berita yang beliau dengar dan tersebar di Madinah. Dan sambil menangis Sayyidina Ali kw bertanya kepada Rosululloh SAW:

 

أَتَخْلُفْنِى مَعَ النِسَاءِ وَالصِّبْيَانْ

Apakah aku sengaja engkau tinggal bersama kaum wanita dan anak anak ?.

 

Mendengar apa yang telah disampaikan oleh Sayyidina Ali kw tersebut, Rosululloh SAW segera memberi tahu Sayyidina Ali kw sbb; sebenarnya aku meninggalkanmu itu bukan karena aku tidak senang kepadamu, tapi karena kamu adalah orang yang bisa kuamanati, demikian pula dulu Nabi Musa pernah mengangkat Harun Saudaranya untuk mewakilinya tinggal bersama kaum Nabi Musa ( orang orang Yahudi ) pada saat Nabi Musa akan pergi Munajat.

 

Jadi jelasnya, Hai Ali apakah engkau tidak suka kedudukanmu saat ini dariku sama seperti kedudukan Harun dari Musa pada saat ditinggal bersama kaumnya. Hanya saja kamu bukan Nabi seperti Harun, sebab sesudahku tidak ada lagi Nabi.

 

Dengan demikian jelas sekali bahwa Hadist tersebut tidak ada hubungannya dengan pengangkatan Sayyidina Ali kw sebagai Kholifah apabila Rosululloh Saw wafat. Karena Hadist tersebut hanya berhubungan dengan penun’jukan Sayyidina Ali kw sebagai pejabat ad interim pada saat Rosululloh Saw akan berangkat berperang ke Tabuk.

Oleh karena itu Sayyidina Ali kw tidak pernah menuntut Kekhalifahan disaat Rosululloh SAW wafat. Begitu pula Sayyidina Ali kw tidak pernah menggunakan Hadist tersebut sebagai Argumentasi untuk menuntut kekhalifahan.

Demikian yang dimaksud dengan hadist tersebut diatas. Semoga keterangan diatas dapat meluruskan apa apa yang selama ini diselewengkan oleh tokoh tokoh Syi’ah.

 

***