PERAN   SAYYIDINA   ALI  KW.  DALAM

 

 HIJRAHNYA  ROSULULLOH  SAW.

 

Peran Sayyidina Ali kw dalam Hijrahnya Rosululloh SAW sangat besar, karena beliaulah orang yang diperintah oleh Rosululloh SAW untuk menggantikan beliau tidur ditempat dimana Rosululloh SAW biasa tidur. Sehingga apabila Kuffar Quraisy mengintip (melihat) dari lubang lubang yang ada dirumahnya akan menyangka bahwa Rosululloh SAW masih ada dan sedang tidur dirumahnya.

Kemudian Sayyidina Ali kw juga yang diperintahkan oleh Rosululloh SAW untuk mengembalikan barang barang milik penduduk Mekah yang dititipkan pada Al Amin Muhammad bin Abdillah SAW.

 

Sebagaimana kita ketahui dengan semakin meningkatnya gangguan orang orang Kafir terhadap Muslimin di Mekah, maka Rosululloh SAW memerintahkan Sahabat Sahabatnya untuk Hijrah ke Madinah. Sebab disana sudah banyak penduduknya yang memeluk agama Islam, dan mereka siap menerima saudara saudaranya seiman dari Mekah. Sedang Rosululloh SAW sendiri masih menunggu perintah dan izin dari Alloh SWT.

Selain Rosululloh SAW, ada dua orang lagi yang belum Hijrah ke Madinah yaitu Sayyidina Abubakar ra dan Sayyidina Ali kw. Sebenarnya Sayyidina Abubakar ra sudah pernah minta ijin pada Rosululloh SAW untuk Hijrah, tapi dilarang oleh Rosululloh SAW, karena akan diajak bersama sama sebagai teman atau Sahabat pada saat ada perintah dari Alloh kepada Rosululloh SAW untuk meninggalkan Mekah. Adapun penyebab Sayyidina Ali kw belum hijrah ke Madinah dikarenakan belum ada perintah dari Rosululloh SAW. Hal mana karena Rosululloh SAW mempunyai rencana yang akan ditugaskan kepada Sayyidina Ali kw.

Rupanya dengan banyaknya Muslimin yang meninggalkan kota Mekah menuju Madinah telah membuat tokoh tokoh Kuffar Quraisy semakin kuatir dan takut kalau pengaruh Rosululloh SAW diluar kota semakin besar, yang akhirnya dapat membahayakan mereka.

Karenanya mereka segera mengadakan pertemuan di DARUNNADWAH, satu tempat (rumah) yang selalu dipakai oleh orang orang Quraisy dalam bermusyawaroh. Dahulunya tempat tersebut dibangun oleh Gushoi bin Kilab.

Dalam permusyawaratan itu mereka bersepakat untuk mengambil dari setiap Kabilah satu pemuda yang perkasa yang akan dipersenjatai dan pada malam yang akan ditentukan mereka akan diperintahkan mengepung rumah Rosululloh SAW, sehingga apabila bertemu dengan Rosululloh SAW, maka mereka bersama sama akan menghabisi Rosululloh SAW. Rencana makar yang keji dan licik ini mereka lakukan agar apabila Bani Hasyim protes maka yang bertanggung jawab semua Kabilah di Mekah.

Dalam hal ini Alloh berfirman:

وَمَكَرُوا  وَمَكَر الله  وَالله خَيْرُ المَاكِرِينْ

Mereka merencanakan makar, namun Alloh menggagalkan rencana jahat mereka. Sungguh Alloh adalah pembalas makar yang sebaik baiknya. 

 

Pada malam yang mereka sepakati itu, Malaikat Jibril turun kepada Rosululloh SAW menyampaikan perintah Alloh SWT agar Rosululloh SAW segera Hijrah ke Madinah.

Begitu menerima pesan dari Alloh SWT tersebut, Rosululloh SAW segera bersiap siap, kemudian beliau memerintahkan anak angkatnya yaitu Sayyidina Ali bin Abi Tholib kw agar pada malam itu tidur ditempat tidurnya, serta mengenakan selimut yang biasa dipakai oleh Rosululloh SAW. Begitu pula beliau berpesan agar Sayyidina Ali kw mengembalikan barang barang milik penduduk Mekah yang dititipkan pada Rosululloh SAW.

Rupanya meskipun mereka tidak beriman kepada Rosululloh, tapi mereka tetap menitipkan barang barangnya yang berharga pada Rosululloh SAW, sebab mereka menganggap Muhammad bin Abdillah SAW adalah orang yang bisa mereka amanati.

Malam itu juga, tepatnya malam Kemis 2 Robiul Awal baginda Rosululloh SAW keluar dari rumahnya untuk Hijrah ke Madinah.  Dan yang mengherankan dengan kuasa Alloh pemuda pemuda yang mengepung rumah Rosululloh SAW tersebut semuanya tertidur. Kemudian Rosululloh SAW mengambil pasir dan sambil membaca ayat Al Qur’an menebarkannya dikepala orang orang tersebut.

Sesuai dengan yang disampaikan oleh para Salafunassoleh, bahwa ayat yang dibaca Rosululloh SAW saat itu adalah:

يَسِ وَالقُراَنُ الحَكِيمْ،  اِنّكَ لَمِنَ المُرْسَلِين، عَلَى صِرَاطً مُسْتقِيمْ،  تَنْزِيْلَ العَزِيزَ الرَّحِيمْ ......اِلَى قَوْلِهِ........فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لاَ يُبْصِرُونْ.

 

Yasin  .........  sampai .........  Fahum  La  Yubshiruun

 

Dari rumahnya Rosululloh SAW langsung menuju rumah Sayyidina Abubakar Ash-Shiddiq ra, guna meminta kesediaannya untuk menemaninya dalam perjalanan ke Madinah.

Alangkah gembiranya Sayyidina Abubakar ra ketika mendengar ajakan tersebut, karena hal ini sudah lama beliau nanti nantikan.

Kemudian keduanya mempersiapkan perjalanan, baik kendaraan yang akan dinaiki maupun orang orang yang akan menghubungi mereka untuk mengirim makanan dan membawa berita keadaan kota Mekah sepeninggal mereka, serta orang yang akan memandu mereka ke Madinah.

 

Selanjutnya mereka berdua langsung menuju GUA TSUR untuk beristirahat dan sembunyi dari pengejaran orang orang Mekah.

Namun begitu sampai dimuka pintu Gua Tsur Sayyidina Abubakar ra segera masuk kedalam guna memeriksa keadaan Gua. Semua lubang yang ada didalam Gua beliau tutup dengan potongan potongan pakaiannya dan hanya satu lubang saja yang belum beliau tutup.

Setelah keadaan Gua benar benar aman, baru Rosululloh SAW dipersilahkan untuk memasukinya.

Kemudian setelah keduanya berada didalam Gua, kaki Sayyidina Abubakar ra yang satu sengaja ditutupkan pada lubang yang belum ditutup, dengan tujuan agar bila dalam lubang tersebut ada binatang, maka binatang tersebut tidak bisa keluar menyakiti  Rosululloh SAW.

Selanjutnya oleh karena semalaman Rosululloh SAW tidak tidur, maka beliau merasa kecapekan dan akhirnya tertidur, kepalanya diletakkan dipaha Sayyidina Abubakar ra. Sedang Sayyidina Abubakar ra sendiri tidak tidur, beliau berjaga jaga, jangan sampai ada yang mengganggu Rosululloh SAW. Beliau takut apabila persembunyiannya diketahui oleh orang orang yang sedang mengejarnya.

Namun pada saat Rosululloh SAW sedang tertidur, binatang yang ada didalam lubang yang tertutup oleh kaki Sayyidina Abubakar ra tersebut menggigit (menyengat) kaki Sayyidina Abubakar ra. Alangkah sakitnya, tapi meskipun merasa sakit beliau tidak mau mengangkat atau menarik kakinya, sebab beliau tidak mau Rosululloh SAW terbangun karena kakinya bergerak. Tapi karena sakitnya gigitan binatang tersebut, tanpa terasa air mata Sayyidina Abubakar ra keluar dan secara tidak sengaja mengenai Rosululloh SAW, sehingga beliau Rosululloh SAW terbangun.

Ketika ditanyakan oleh Rosululloh SAW mengenai apa yang terjadi, maka setelah diberitahukan bahwa seekor ular telah menyengatnya, Rosululloh SAW segera mengusapkan air ludahnya kekaki Sayyidina Abubakar, dan saat itu juga rasa sakitnya hilang.

 

Beliau Rosululloh SAW dan Sayyidina Abubakar ra sampai beberapa hari sembunyi didalam Gua Tsur, mereka menunggu keadaan diluar agak aman.

 

Adapun pemuda pemuda yang mengepung Rumah Rosululloh SAW, maka pada pagi harinya ada orang yang menghampiri mereka dan memberi tahukan bahwa orang yang mereka cari (Rosululloh SAW) sudah meninggalkan rumahnya.

Mendengar berita tersebut, mereka cepat cepat mengintip dari lubang rumah Rosululloh SAW, dan saat itu mereka melihat ada orang yang berselimut sedang tidur ditempat Rosululloh SAW. Karenanya mereka berpendapat bahwa yang masih tidur itu pasti Muhammad bin Abdillah SAW.

Namun setelah mereka yakin bahwa yang sedang tidur adalah Ali bin Abi Tholib kw dan orang yang mereka cari sudah meninggalkan rumahnya, maka mereka mulai ribut dan saling menyalahkan.

Mendengar apa yang dialami oleh pemuda pemuda tersebut  para tokoh Kuffar Guraisy segera mengeluarkan sayembara yang isinya: Bagi yang dapat mengembalikan Muhammad bin Abdillah SAW akan diberi hadiah seratus ekor unta.

Merekapun segera mengejar Rosululloh SAW, mereka menyebar, semua jalan menuju luar kota mereka lalui dan periksa, namun mereka tidak menemukan orang yang mereka cari.

Sebenarnya dalam pengejaran tersebut mereka sudah sampai didepan Gua Tsur, namun dengan kuasa Alloh pintu Gua Tsur sudah penuh dengan sarang Laba Laba, juga mereka dapati burung dara yang sedang berada disarangnya. Hal ini membuat mereka berfikir, bahwa melihat apa yang ada dihadapan mereka, menunjukan sudah lama tidak ada orang yang masuk kedalam Gua.

Sampai sampai Sayyidina Abubakar ra yang berada didalam Gua ketka melihat kaki kaki orang orang tersebut berkata kepada Rosululloh SAW; Andaikata mereka dengan jongkok saat melihat kedalam Gua , niscaya mereka akan dapat melihat kita.

Tapi Rosululloh SAW segera melarangnya berbicara, sehingga saat itu turun ayat yang berbunyi :

 

...ثَانِيَ اثْـنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الغَارْ اِذْ يَقُولُ  لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ اِنَّ اللهَ مَعَنَا...                                                               (التوبة – 40)

 

...... Salah seorang dari dua orang ketika keduanya sedang berada didalam Gua, diwaktu dia berkata kepada sahabatnya “Janganlah kamu bersedih, sesunggunya Alloh bersama kita”...

                                                                                                (Attaubah : 40)

 

Setelah berada tiga hari didalam Gua, baru Rosululloh SAW bersama Sayyidina Abubakar ra meninggalkan Gua Tsur, tepatnya pada malam Senen 5 Robiul Awal, tiga belas tahun setelah beliau diutus sebagai Rosul. Mereka dipandu oleh seorang pemandu yang menguasai daerah yang akan dilewati dan agar tidak diketahui oleh orang lain maka mereka menempuh jalan yang tidak biasa dilewati oleh orang orang yang sedang menuju kota Madinah.

 

Berita keluarnya Rosululloh SAW dari Mekah menuju Madinah disambut gembira oleh Muslimin di Madinah. Setiap hari mereka keluar dari rumahnya kepinggir kota guna menyambut kedatangan baginda Rosululloh SAW, Mereka keluar bersama keluarganya dengan membawa bekal makanan dan minuman, namun pada sore harinya mereka kembali kerumahnya. Hal tersebut mereka lakukan sampai pada hari dimana baginda Rosululloh SAW memasuki kota.

Setelah berhari hari dalam perjalanan, akhirnya beliau Rosululloh SAW bersama rombongannya memasuki desa Quba’, dimana disitu Rosululloh SAW langsung membangun Masjid dan dalam sejarah Masjid Quba’ tersebut dikenal sebagai Masjid yang pertama dibangun oleh Rosululloh SAW.

Selanjutnya setelah beberapa hari tinggal di Quba’, Rosululloh SAW meneruskan perjalanannya memasuki kota Madinah. Diperkirakan jarak Quba’ dengan Madinah saat itu lima kilo meter. Tapi dengan meluasnya kota Madinah saat ini, Desa Quba’ sudah berada ditengah kota Madinah.

Semua Muslimin baik laki laki maupun perempuan dari kaum Muhajirin dan Ansor menyambut kedatangan Rosululloh SAW, mereka bergembira karena dapat bertemu dan berkumpul bersama Panutan mereka.

Mereka pantunkan berbagai syair yang berisi pujian pujian bagi Rosululloh SAW , diantaranya yang sangat terkenal adalah :

طَلَعَ البَدْرُ عَلَيْنَا مِنْ ثَنِيَّاتِ الوَدَاعِ

وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا مَا دَعَى لِلَّهِ دَاعِى

اَيُّهَا المَبْعُوْثُ فِيْنَا جِئْتَ بِلأَمْرِ المُطَاعِ

Kemudian setiap meliwati rumah seseorang, pemiliknya selalu memohon agar baginda Rosululloh SAW berkenan tinggal dirumahnya. Namun Rosululloh selalu menjawab, biarkan unta ini berjalan sesukanya, sebab dia diperintah atau ada yang mengendalikannya.

Tidak lama kemudian berhentilah unta tersebut didepan rumah seorang Ansor yang bernama Abu Ayyub Al Anshori, dan begitu unta tersebut berhenti Rosululloh SAW segara turun dan disambut gembira oleh Sohibul Bait  (pemilik rumah).

Pertama tama yang dilakukan Rosululloh SAW di Madinah adalah membangun Mas’jid, baru setelah pembangunan Mas’jid selesai, disebelahnya dibangun kamar kamar untuk keluarganya.

 

Tempat Tinggal Rosululloh SAW  Di Madinah

Setelah pembangunan Mas’jid Nabawi selesai, kemudian Rosululloh SAW membangun ruangan ruangan atau kamar kamar untuk beliau dan keluarganya, istri istrinya dan anak anaknya.

Sebagaimana kita ketahui, setelah Ummul Mukminin Khodijah ra. wafat tiga tahun sebelum Hij’roh, Rosululloh SAW baru kawin lagi. Yang pertama beliau Nikahi adalah Ummul Mukminin Saudah binti Zam’ah ra, kemudian dengan Ummul Mukminin Aisyah ra. Namun meskipun dengan Siti Aisyah ra aqidnya ketika Rosululloh SAW masih berada di Mekah, tapi masuknya baru setelah Siti Aisyah hijrah ke Madinah. Karenanya kamar kamar yang dibangun oleh Rosululloh SAW pada mulanya hanya tiga. Satu kamar untuk Siti Aisyah ra yang letaknya sebelah timur Mas’jid Nabawi, bahkan ada pintunya yang tembus kesudut Mas’jid , juga ada pintunya yang menghadap keKhoukhoh Ali (lihat gambar 3). Satu Kamar lagi untuk Ummul Mukminin Saudah binti Zam’ah ra, yang letaknya disebelah timur kamar Siti Aisyah ra.(Gambar 4). Dan satu kamar lagi untuk Siti Fathimah ra dan Ummu Kaltsum ra (gambar 5), yang letaknya diseberang tempat Siti Aisyah ra, yang terpisah dengan lorong, dimana kemudian lorong tersebut dikenal dengan nama Khoukhoh Ali.

Kelorong inilah menghadap pintu kamar Siti Fathimah ra,  pintu kamar Ummul Mukminin Saudah ra juga menghadap kelorong tersebut.

Dikamar Siti Aisyah ra inilah beliau Rosululloh SAW dimakamkan, begitu pula kedua Sahabatnya Kholifah Abubakar ra dan Kholifah Umar ra juga diizinkan oleh Siti Aisyah ra untuk dimakamkan disebelah Rosululloh SAW. Tapi karena kecilnya ruangan (kamar) tersebut, maka Siti Aisyah ra mengalah dan beliau dimakamkan di Baqi’ (Pemakaman umum). Sungguh Terpuji.

Itulah kamar kamar yang pertama kali dibangun oleh Rosululloh SAW.(Gambar 3,4,5). Setelah itu baru setiap kali Rosululloh SAW menikah, istrinya selalu dibuatkan kamar.

Namun perlu diketahui, bahwa kamar kamar yang dibangun oleh Rosululloh SAW itu bukan gedung gedung sebagaimana yang kita tempati sekarang, tapi bangunannya sangat kecil, dibangun dari tanah yang dicampur dengan serat daun pohon korma, sangat sederhana, sekedar bisa untuk berteduh dan tertutup.

 

( Gambarini  dari  kitab Ad Dur Ats Tsamin ( Muhamad Assyinggiti )

            1.  Mihrob.                                            2.  Mimbar.

            3.  Kamar Siti Aisyah ra                      4.  Kamar Saudah binti Zam’ah ra

            5.  Kamar Siti Fathimah ra                  6.  Kamar Zainab Al Hilaliyyah ra

            7.  Kamar Zainab U.Masakin ra         8.  Kamar Zainab binti Jahsy ra

            9.  Kamar  Siti Hafshoh ra                 10.  Kamar Siti  Juwairiyah ra 

          11. Kamar  Siti Romlah ra                   12.  Sofiyyah ra.    13.  Ash-Shofwah.

          14. Khoukhoh (pintu) Ali.                     15.  Khoukhoh (pintu) Abubakar

          16. Bab (pintu) Utsman.                       17.  Bab (pintu) Arrohmah.

 

Demikian sedikit cerita perjalanan Hijrah Rosululloh SAW dari Mekah menuju Madinah serta pembangunan Mas’jid Nabawi..

 

Adapun Sayyidina Ali kw maka setelah Rosululloh SAW meninggalkan rumahnya, beliau langsung tidur ditempat dimana Rosululloh SAW biasa tidur. Beliau gunakan selimut yang biasa dipakai oleh Rosululloh SAW. Alhasil malam itu beliau kerjakan apa apa yang diperintahkan oleh Rosululloh SAW.

Beliau tahu bahwa apa yang beliau kerjakan pada malam itu resikonya sangat besar, karena orang orang kuffar Guraisy akan marah dengan tindakannya itu. Bisa bisa beliau yang dihabisi oleh pemuda pemuda tersebut. Namun karena keberaniannya serta cintanya kepada Rosululloh SAW, beliau korbankan dirinya, beliau siap menerima segala resiko, yang penting Rosululloh SAW selamat.

 

Selanjutnya setelah tiga hari baginda Rosululloh SAW meninggalkan rumahnya, maka Sayyidina Ali kw setelah mengembalikan semua barang barang milik orang orang Mekah sesuai dengan pesan Rosululloh SAW, maka beliau segera menyusul Rosululloh SAW ke Madinah. Beliau berangkat dengan jalan kaki, jika siang hari beliau bersembunyi dan pada malam harinya meneruskan perjalanan. Bayangkan berjalan sejauh kurang lebih empat ratus kilo meter, dengan meliwati padang pasir dan pegunungan. Karenanya kakinya sampai luka dan berdarah.

Dalam buku buku sejarah juga disebutkan bahwa akibat perjalanan yang jauh dan medan yang berat serta melelahkan tersebut kaki Sayyidina Ali kw sampai luka parah dan bengkak, sehingga Rosululloh SAW sedih melihatnya. Namun semua itu menambah kebesaran Sayyidina Ali kw, semua itu beliau terima dengan senang hati. Yang penting bisa kembali berkumpul bersama Rosululloh SAW.

 

Demikian telah kami sampaikan sedikit dari peran Sayyidina Ali kw dalam Hijrahnya Rosululloh SAW.

 

***