Proses Pembaiatan Sayyidina Ali kw

 Sebagai Kholifah

 

 

Disaat kota Madinah digemparkan dengan terbunuhnya Kholifah Usman Ibnu Affan ra, maka saat itu Muslimin sepakat bahwa yang berhak menjadi atau menjabat sebagai Kholifah ke empat menggantikan Kholifah Usman ra adalah Sayyidina Ali kw. Sebab diwaktu penunjukan Sayyidina Usman ra sebagai Kholifah, saat itu yang menjadi calon untuk menjabat sebagai Kholifah tinggal dua orang saja, yaitu Sayyidina Usman Ibnu Affan ra dan Sayyidina Ali bin Abi Tholib kw. Dan andaikata Sayyidina Usman ra tidak terpilih, niscaya saat itu yang menjadi Kholifah ke tiga adalah Sayyidina Ali bin Abi Tholib kw.

Sehingga pada waktu Sayyidina Ali bin Abi Tholib kw ditunjuk dan dibaiat sebagai Kholifah, tidak ada orang yang menolak. Hampir semua Sahabat yang berada di Madinah membaiatnya, termasuk Tholhah ra dan Zubair ra, dua Sahabat yang termasuk sepuluh orang Sahabat yang diberitakan oleh Rosululloh SAW akan masuk Surga atau Mubasysyarin Bil Jannah.

Pada mulanya Sayyidina Ali kw menolak untuk dibaiat sebagai Kholifah, bahkan beliau berkata; carilah lainnya, dan aku cukup jadi wazir saja. Namun karena didesak akhirnya beliau menerima jabatan tersebut.

 

Pembaiatan tersebut ternyata diprotes oleh orang orang dari Syam (Syria), Mesir dan dari Iraq. Sebenarnya mereka juga sepakat bahwa yang layak menggantikan Kholifah Usman ra adalah Sayyidina Ali bin Abi Tholib kw, tapi mereka menuntut agar pembunuh pembunuh Kholifah Usman ra diadili terlebih dahulu, dan setelah selesai baru mereka akan membaiat.

Kholifah Ali bin Abi Tholib kw berpendapat, bawa pelaksanaan pengadilan dan Gishos akan dilaksanakan, tapi menunggu setelah keadaan negara aman dan terkendali, serta menunggu baiatnya semua orang di daerah daerah. Karena apabila penyelidikan dan penangkapan (pengadilan) dilaksanakan terlebih dahulu, maka keadaan akan semakin memburuk dan tidak aman serta semakin tidak terkendali. Sebab pelaku pelaku pemberontakan dan pembunuhan terhadap Kholifah Usman ra ada dimana mana. Mereka mempunyai Gobilah Gobilah dan Suku Suku dan hal ini akan menimbulkan pemberontakan pemberontakan baru. Karenanya Kholifah Ali bin Abi Tholib kw dan beberapa tokoh Sahabat sepakat mendahulukan keamanan, dan setelah keadaan negara aman dan terkendali baru diadakan Qishos atau pengusutan terhadap orang orang yang terlibat dalam pembunuhan Kholifah Usman Ibnu Affan ra.

 

Adapun orang orang yang menuntut diadakan Qishos terlebih dahulu tersebut juga membawa alasan, diantaranya firman Alloh dalam Al Qur’an yang mewajibkan Qishos, serta Hadits Nabi yang menyatakan bahwa Usman akan terbunuh dalam keadaan Madzlum atau didholimi dan dia dalam kebenaran.

 

Selain dua kelompok tersebut, ada lagi kelompok ketiga, mereka menunggu keadaan aman dan damai baru akan baiat. Diantara mereka adalah Sahabat Saad bin Abi Waggos ra dan Abdulloh bin Umar ra. Mereka juga mempunyai alasan dan dalil sesuai dengan Hadits Nabi SAW.

 

Menurut para Ulama ketiga kelompok mempunyai alasan dan dalil dan semuanya menghendaki kebaikan, karenanya ketiganya dianggap Mujtahid. Dan sesuai dengan Hadits Nabi maka yang Ijtihadnya benar mendapat dua pahala, sedang yang Ijtihadnya salah mendapat satu pahala.

 

Ternyata setelah diketahui kebenaran sikap Kholifah Ali bin Abi Tholib kw dan setelah melihat akibat dari sikap sikap yang lain tersebut, maka para Ulama sepakat bahwa Sayyidina Ali kw berada dipihak yang benar.

Hal ini dikuatkan dan sesuai dengan pengakuan Siti Aisyah ra setelah selesainya perang Jamal, dimana beliau berkata bahwa ternyata pendapat Kholifah Ali lah yang benar dalam mengambil sikap terhadap orang orang yang terlibat dalam pembunuhan terhadap Kholifah Usman ra. Yaitu menunggu suasana tenang dan aman serta terkendali, baru melaksanakan Gishos terhadap pembunuh Kholifah Usman ra.

 

Namun janganlah ada yang berprasangka bahwa tindakan mereka itu didorong kepentingan kepentingan duniawi. Sebab pujian pujian dari Alloh dan Rosulnya cukup banyak tertera di dalam Al Qur’an dan di kitab kitab Hadits. Dan itulah sikap kita Ahlussunnah Waljamaah.

 

Demikian sedikit mengenai proses pembaiatan Sayyidina Ali kw sebagai Kholifah ke empat.

***