Sayyidina Ali kw

 Dan  Kholifah Utsman ra

 

 

Kholifah Utsman Ibnu Affan ra adalah famili dan menantu Rosululloh SAW. Bahkan beliau menikah dengan dua putri Rosululloh SAW. Dimana setelah istrinya yang pertama Rugayyah binti Rosulillah SAW meninggal, maka beliau menikah dengan Ummu Kaltsum binti Rosulillah SAW.

Sayyidina Ali kw pernah mendengar dari Rosululloh SAW mengenai keistimewaan Sayyidina Utsman ra, dimana beliau melukiskan Sayyidina Utsman ra sebagai orang yang cahanya menyinari penghuni langit, dan bagaikan matahari yang menerangi bumi.

Sayyidina Ali kw juga pernah mendengar dari Rosululloh SAW sebagai berikut: “ Setiap Nabi mempunyai teman, dan temanku di Surga adalah Utsman Ibnu  Affan”.

Kemudian disaat Sayyidina Ali kw mendengar ada orang orang yang mencela Kholifah Utsman ra, beliaupun marah, bahkan beliau memujinya seraya berkata; “Andaikata aku yang diserahi jabatan kepemimpinan ummat seperti Utsman, niscaya aku juga akan menempuh jalan yang ditempuh oleh Utsman”.

Selanjutnya beliau Sayyidina Ali kw memuji Kholifah Utsman ra, diantaranya beliau berkata:

Dhunnurain demikian nama (julukan) yang diberikan oleh Malaikat kepada Sayyidina Utsman ra. Beliaulah yang dengan harta kekayaannya membantu Rosululloh SAW disaat Muslimin membutuhkan dana guna kebutuhan persiapan peperangan. Beliaulah yang dengan hartanya membeli dengan harga yang sangat tinggi sumber air Roumah milik seorang Yahudi, untuk kepentingan Muslimin di Madinah. Sehingga sejak itu Muslimin tidak kekurangan air minum lagi. Beliaulah yang menghabiskan sebagian kekayaannya dengan membagikan makanan dan pakaian bagi penduduk Madinah dimusim paceklik dengan jumlah yang sangat besar. Beliaulah yang membeli dan kemudian memerdekakan beratus ratus budak dengan uangnya sendiri. Beliaulah yang merenofasi dan memperluas Mas’jid Nabawi dengan dana dari uangnya pribadi.

Disamping itu beliau adalah seorang sholeh yang tekun beribadah, selalu membaca Al Qur’an. Beliaulah yang apabila makan sangat sederhana, cukup roti kering yang dioles dengan minyak, tapi beliau justru memberi makan orang lain dengan daging, madu dan samin. Hampir sepanjang masa beliau kelihatan berpuasa.

 

Diantara jasa dan inisiatif Kholifah Utsman ra yang sampai sekarang kita pakai dan ikuti adalah Al Qur’an yang kita baca sekarang ini. Saat itu kholifah Utsman ra menghadapi keadaan yang menghawatirkan, dimana saat itu Muslimin diberbagai daerah membaca Al Qur’an dengan cara yang berlainan. Mereka berbeda faham dalam menyikapi cara membaca Al Qur’an, sehingga masing masing merasa dirinya yang benar.

Kholifah kemudian mengumpulkan tokoh tokoh Sahabat dan diberitahukan mengenai kehawatirannya akan bahaya yang akan timbul akibat perselisihan dari perbedaan bacaan Kitabulloh (Al Qur’an). Beliau menegaskan keadaan ini tidak boleh terjadi dan harus dihentikan. Beliau kamudian meminta kepada Ummul Mukminin Hafshoh ra untuk menyerahkan lembaran lembaran Al Qur’an yang ditulis oleh Sayyidina Ali kw dan Zeid bin Tsabit pada masa kekhalifahan Abubakar ra, yang kemudian dititipkan oleh Kholifah Umar ra kepada putrinya Hafshoh ra.

Selanjutnya Kholifah Utsman ra mengumpulkan beberapa Sahabat dan kepada mereka Kholifah meminta agar menghimpun lembara lembaran tersebut menjadi satu naskah. Kemudian beliau berpesan, apabila berbeda pendapat, maka beliau berpesan agar kembali kedialek Quraisy. Hal mana karena Al Qur’an diturunkan dengan bahasa arab dialek Quraisy.

Hasilnya kemudian dikirim kedaerah daerah, dengan pesan agar apabila membuat baru supaya penulisan Mus’haf selanjutnya harus sama dan seragam dengan yang dikirim oleh Kholifah. Selanjutnya semua catatan catatan mengenai Mushaf (Al Qur’an) yang lain supaya dibakar.

Usaha dan inisiatif Kholifah Utsman ra ini membuat Sayyidina Ali kw dan para Sahabat merasa gembira.

 

Namun yang disayangkan, disamping keistimewaan keistimewaan Kholifah Utsman ra yang kami sebutkan tersebut, mungkin karena sudah lanjutnya usia beliau, ternyata Kholifah Utsman ra  bisa dipengaruhi oleh famili familinya. Diantara yang terkenal dalam sejarah adalah Marwan bin Hakam.

Hal hal inilah yang akhirnya membuat banyak orang didaerah daerah yang tidak suka dan tidak puas dengan kebijaksanaan kebijaksanaan Kholifah Utsman ra.

Dalam hal ini Sayyidina Ali kw sudah berkali kali menasihatinya. Namun karena lihainya lobi yang dilakukan oleh Marwan bin Hakam cs, banyak saran Sayyidina Ali kw yang tidak dilaksanakan oleh Kholifah Utsman.ra

 

Namun meskipun demikian keadaannya, tapi disaat pemberontak berusaha mengepung kediaman Kholifah Utsman ra, Sayyidina Ali kw segera memerintahkan kedua putranya Al Hasan ra dan Al Husin ra untuk menjaga dan melindungi Kholifah Utsman ra.

 

Sayyidina Ali kw begitu diberi tahu bahwa Kholifah Utsman pagi ini terbunuh, beliau segera bergegas menuju kekediaman Kholifah dan menanyakan mengenai pembunuh pembunuh tersebut. Tapi karena tidak diketahui dengan pasti siapa pembunuhnya dan hanya diketahui bahwa mereka  adalah orang orang yang datang dari Mesir, maka Sayyidina Ali kw tidak dapat berbuat banyak. Bahkan karena marahnya, Sayyidina Ali kw sampai menampar putra putranya, dikarenakan dapat lolosnya beberapa pemberontak masuk kekediaman Kholifah Utsman ra dan membunuh beliau.

Padahal masuknya pemberontak tersebut lewat jalan belakang dan tidak diketahui oleh Al Hasan dan Al Husin Rodhi Allohu  Anhuma.

Beliau Kholifah Utsman ibnu Affan ra. dibunuh (Syahid) dalam keadaan sedang membaca Al Qur’an.

 

Dalam Tarikh Thobari diceritakan bahwa Kholifah Utsman Ibnul Affan ra meninggal pada hari Jum'at pagi delapan belas Dhulhijjah tahun tiga puluh lima Hijriyyah. Dan umurnya saat itu Delapan puluh dua tahun.

 

Diantara para Sahabat yang memandikan dan mengkafani adalah Hakim bin Hizam, Abul Jahm bin Khudhaifah, Zubair Ibnul Awwam dan Sayyidina Ali kw dan beberapa orang teman Kholifah serta Istri Istrinya Kholifah Utsman, diantaranya Nailah dan Ummul Banin bintiUtbah bin Khushoin.

 

Dalam kitab Musnad Imam Ahmad diterangkan, bahwa yang menjadi imam dalam sholat jenazah tersebut adalah sahabat Zubair Ibnul Awwam ra, atas wasiat Kholifah Utsman ra. Malam hari itu juga antara maghrib dan isyak, jenazah beliau dimakamkan di pemakaman Baqi'.

Imam Nawawi ketika menerangkan mengenai pembunuhan tersebut, bahwa tidak seorangpun dari para Sahabat yang terlibat dalam pembunuhan Kholifah Utsman ra.

Inna Lillah Wa Inna Ilaihi Rojiuun.

 

Demikian hubungan Sayyidina Ali kw dengan Kholifah Utsman ra. Keduanya adalah orang orang yang dipilih oleh Rosululloh SAW untuk menjadi menantunya.

 

***