Imam Ali kw Dan Keputusan Kholifah Abubakar  

Terhadap  Pembangkang  Zakat.

 

Meninggalnya Rosululloh SAW telah membuat orang orang didaerah daerah di luar Madinah merasa bebas berbuat. Sehingga ada yang merasa bebas dan tidak lagi berkewajiban membayar Zakat. Juga ada yang mengaku Nabi baru, sehingga banyak warga didaerah tersebut menjadi Murtad.

Kejadian ini semua menjadi beban bagi pemerintah yang dipimpin oleh Kholifah Abubakar ra. Sehingga beliau dituntut untuk mengambil satu keputusan yang tepat dan tegas dalam menghadapi masalah tersebut.

Dalam menghadapi orang orang yang mengaku sebagai Nabi Baru, Kholifah Abubakar ra tidak ada kendala. Sebab semua Sahabat sepakat bahwa Nabi Nabi palsu tersebut harus diperangi. Tapi dalam menghadapi  orang orang yang tidak mau membayar Zakat, ada dua pendapat. Yang pertama Kholifah Abubakar ra bersikeras agar orang orang tersebut diperangi. Pendapat ini didukung oleh Sayyidina Ali kw dan beberapa Sahabat. Pendapat kedua berharap agar mereka disikapi dengan agak lunak, artinya tidak harus diperangi. Pendapat ini didukung oleh Sayyidina Umar ra dan beberapa Sahabat. Alasan mereka karena orang orang tersebut sudah membaca Syahadat, dan orang yang sudah mengikrarkan Syahadat harus dijamin keselamatan jiwanya.

Adapun alasan Sayyidina Ali kw dan Kholifah Abubakar ra, karena perbuatan tersebut berarti melanggar Sunnah Rosululloh SAW, sama seperti meninggalkan kewajiban Sholat. Karenanya pembangkangan terhadap kewajiban menunaikan Zakat berarti menumbangkan salah satu tiang agama. Dan bagi pembangkang Zakat Sholatnya tidak ada gunanya.

Oleh karena itu Kholifah Abubakar ra dan Sayyidina Ali kw sependapat bahwa Syahadat mempunyai konsekwensi yang wajib dipenuhi dan ditunaikan, yaitu wajib Sholat, wajib Zakat, wajib Puasa Romadhon dan wajib Haji bagi yang mampu..

Akhirnya dengan penjelasan Kholifah Abubakar ra tersebut, para Sahabat sepakat bahwa pembangkang Zakat harus diperangi.

***