Berisi

 

 

 

1. Sahabat Muawiyah Dan Hubungannya Dengan Sayyidina Ali kw

 

2. Benarkah Kholifah Muawiyah Memerintahkan Agar Melaknat Sayyidina Ali kw  Di Mimbar Mimbar ?

 

 ooOoo

 

 

Sahabat Muawiyah Dan Hubungannya Dengan Sayyidina Ali kw

 

 

        Setelah kami membahas sejarah Sayyidina Ali kw, dan berkali kali menyebut nama Muawiyah. Maka rasanya tidak lengkap Situs ini, apabila kami tidak membahas siapa sebenarnya Sahabat Muawiyah itu.

 

كَالشَمْسِ فِى الاُفُقِ الاَعْلَى أبُو الحَسَن، ومَنْ مُعاوِيَة فِى الاَرْضِ قِندِيلْ

                                                  ( شواهد الحق )

 

       “Bagaikan matahari di ufuk tertinggi Abul Hasan (Sayyidina Ali kw), sedang Muawiyah bagaikan lampu cuplik yang berada di bumi”.

                                                                 ( Syawahidul haq)

 

       Demikian kata kata Yusuf Annabhani, seorang ulama Sunni, penulis sejarah Ahlul Bait, ketika menyebutkan perbedaan antara kedudukan Sayyidina Ali kw dengan kedudukan Muawiyah.

 Keduanya bersinar, tapi yang satu sinarnya bagaikan sinar matahari dan yang satu lagi sinarnya bagaikan sinar lampu cuplik.

 Yang satu masuk Islam sejak awal, sedang yang satu lagi masuk Islam setelah Fat’hu Makkah.

 

 Alloh SWT berfirman:

 

لاَ يَسْتَوِي مِنكُم مَّنْ أَنفَقَ مِن قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُوْلَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِّنَ الَّذِينَ أَنفَقُوا مِن بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ .         

                               (  الحديد – 10  )

 

Artinya :

“ Tidak sama diantara kalian yang menafkahkan hartanya dan berperang sebelum penaklukkan Mekkah (Fat’hu Makkah), mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan hartanya dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka balasan yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan”.

                                                              (Al – Hadiid 10)

 

         Muawiyah ra adalah seorang Sahabat Rosululloh SAW, yang masuk Islam setelah Fat’khu Makkah. Beliau adalah saudara dari Ummul Mukminin Ummu Habibah ra, istri Rosululloh SAW.       

        Ipar Rosululloh SAW ini termasuk salah seorang dari sekian banyak juru tulis Rosululloh SAW. Ada yang mengatakan sebagai penulis Wahyu (Katibul Wahyu) dan ada yang mengatakan hanya penulis surat surat Rosululloh SAW.

         Bagi kami, yang penting dia pernah dimintai tolong oleh Rosululloh SAW. Dan sebagai seorang yang menghargai jasa orang lain, pasti Rosululloh SAW tidak akan melupakan jasanya.

        Muawiyah adalah anak dari Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdu Syames bin Abdu Manaf. Nasabnya bertemu dengan nasab Rosululloh SAW di Abdu Manaf. Beliau Sayyidina Muhammad bin Abdulloh bin Abdul Muttolib bin Hasyim bin Abdu Manaf.

 

         Adapun mengenai peperangan yang terjadi antara Muawiyah dengan Sayyidina Ali kw dalam  perang Siffin, maka golongan Ahlussunnah sepakat bahwa Muawiyah berada difihak yang salah dan dia dianggap memberontak atau Bugho terhadap pemerintah (Kholifah Ali kw) yang sah saat itu. Tapi Ahlussunnah tidak menghukumnya Kafir.

          Sedang Sayyidina Ali kw menurut golongan Ahlussunnah berada difihak yang benar. Beliau adalah Kholifah ke empat yang sah dan diakui sebagai salah satu Khulafaur Rosyidin yang menjadi panutan bagi Ahlussunnah Wal Jamaah.

          Dalam hal ini Rosululloh SAW pernah bersabda :

 

عَليكُم بِسُنتِى وسُنّتِ الخُلفَاء الرّاشِدين مِن بَعْدِى

Berpeganglah dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rosyidin sesudahku…..

 

    Namun jika ada yang akan membicarakan kesalahan kesalahan Muawiyah terhadap Sayyidina Ali kw serta akan menghukumnya, maka terlebih dahulu kita harus mengenal dan tahu benar siapa Sayyidina Ali kw itu.

  Beliau Sayyidina Ali kw adalah sepupu Rasululloh SAW dan sekaligus sebagai anak angkatnya, yang kemudian menjadi menantunya.

Jika para Sahabat itu dikenal sebagai orang orang yang telah mewarisi sifat sifat mulia Rasululloh SAW, lalu bagaimana dengan Sayyidina Ali kw yang disamping sebagai seorang Sahabat, beliau juga seorang Ahlul Bait yang telah mendapat keistimewaan dan keutamaan dari Allah dan Rasul Nya.

Sejak kecil Sayyidina Ali kw tinggal serumah bersama Rasululloh SAW dan mendapat pendidikan langsung dari beliau Rasululloh SAW. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa beliau Sayyidina Ali kw telah mewarisi sifat sifat mulia dan akhlak Rasululloh SAW.

Lalu bagaimana akhlak dan sifat sifat mulia Rasululloh SAW yang telah diwarisi oleh Sayyidina Ali kw tersebut ?. Bagaimana sikap beliau Rasululloh SAW pada saat Fat’hu Makkah terhadap Kuffar Quraisy yang setiap hari setiap saat selalu mengejeknya, menghinanya, memusuhinya bahkan akan membunuhnya ?

 

اذهَبُو فَأنتُمُ الطُلقَاء

“ Pergilah, kalian semua bebas

 

      Demikianlah kata kata yang keluar dari Rasululloh SAW disaat orang orang Mekkah menunggu, tindakan apa yang akan dilakukan oleh Rasululloh SAW terhadap mereka.

Semuanya beliau maafkan, padahal saat itu apabila Rasululloh SAW menghendaki, beliau bisa menghukum mereka. Tidak ada sedikitpun rasa dendam pada diri Rasululloh SAW. Beliau  benar benar sebagai panutan dan Uswah Hasanah bagi kita Umat Islam.

 Allah berfirman :               

 

لَقدْ كانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ الله أسْوَةٌ حَسَنَة   ( الاحزاب )

    “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kalian...”

 

Demikian pula dengan Sayyidina Ali kw, sebagai anak didik Rasululloh SAW yang telah mewarisi sifat sifat mulia baginda Rasululloh SAW, maka Sayyidina Ali kw telah mengambil sikap yang sama terhadap orang orang yang pernah memusuhinya dan memeranginya. Beliau telah memaafkan Muawiyah dan orang orang yang memerangi serta memusuhinya.

     Bahkan menurut Al Allamah Yusuf Annabhani, seorang Muhibbin dan penulis sejarah Ahlul Bait, dalam bukunya beliau mengatakan: “Karena kebesaran jiwa dan akhlak Sayyidina Ali kw, maka Muawiyah telah dimaafkan, bahkan mendapat Syafaat dari Sayyidina Ali kw”.

Selanjutnya Annabhani berkata : “Jangankan Muawiyah hanya satu, andaikata ada seribu Muawiyah, pasti semuanya akan dimaafkan oleh Imam Ali”.

Itulah bukti kebesaran jiwa Sayyidina Ali kw. Beliau adalah seorang pemaaf dan tidak mempunyai rasa dendam pada orang lain. Dan sifat mulia tersebut kemudian diikuti oleh anak anaknya. Hal ini dibuktikan dengan baiatnya Sayyidina Hasan ra dan Sayyidina Husin ra kepada Muawiyah saat dia jadi Kholifah.

 

      Dulu penulis pernah mengkritik Muawiyah (semoga dimaafkan oleh Allah dan oleh Muawiyah). Hal mana karena keterbatasan ilmu kami saat itu. Dan terutama karena pengaruh salah seorang guru kami saat itu ( semoga beliau diampuni oleh Alloh ).

Tapi setelah kami banyak membaca buku buku Salafunassholeh mengenai mereka, ternyata Muawiyah disamping kesalahan kesalahannya, dia juga berjasa terhadap Islam.     

Sejarah membuktikan bahwa disaat Muawiyah menjadi Kholifah, ada Futuuhaat Islamiyyah yang dilakukan olehnya.

Futuhaat Islamiyah adalah pembebasan atau penguasaan terhadap daerah daerah yang dahulunya dikuasai oleh golongan diluar Islam, menjadi dibawah kekuasaan pemerintahan Islam. Sehingga penduduknya yang asalnya Kuffar menjadi Muslimin.

 

Disamping keterangan keterangan diatas, Alhabib Abdullah Alhaddad, seorang ulama Ahlul Bait dan tokoh Ahlussunnah Wal Jamaah, ketika seorang yang beraliran Syiah Zaidiyah menanyakan kepadanya tentang Muawiyah, maka beliau menjawab :

Muawiyah berbeda dengan Yazid, Muawiyah adalah seorang Sahabat sedang Yazid adalah seorang yang Fasik.

                                  (Mukaatabat Habib Abdullah Alhaddad).

 

      Sedang yang dimaksud dengan Sahabat Rasululloh SAW adalah orang yang waktu bertemu (berkumpul) dengan Rasululloh SAW dalam keadaan beriman dan saat dia mati juga dalam keadaan beriman.

 

Demikian kesaksian Al Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad bahwa Muawiyah mati dalam keadaan beriman.

Itulah sebabnya dalam buku buku yang dikarang oleh Al Habib Abdullah Alhaddad, apabila beliau menyebut nama Muawiyah selalu diakhiri dengan kataRodhiallohu Anhu”.

 

Adapun mengenai kekhalifahan Muawiyah, maka Al Habib Abdullah Alhaddad mengatakan bahwa dengan penyerahan dan pengakuan serta Bai’at Imam Hasan ra kepada Muawiyah, maka kekhalifahan Muawiyah menjadi sah.

     

      Berbeda dengan golongan Ahlussunnah Wal Jamaah yang menghormati semua  Sahabat  Rasululloh SAW, maka golongan Syiah mengkafirkan Muawiyah. Alasan mereka karena Muawiyah memerangi Kholifah Ali kw. 

      Padahal, jika Muawiyah itu kafir, mengapa Sayyidina Hasan ra putra Sayyidina Ali kw yang menurut ajaran Syiah mempunyai sifat Ma’shum itu menyerahkan kekhalifahan kepada Muawiyah ?.

 

Apakah dibenarkan dalam Islam, menyerahkan kekhalifahan dan baiat kepada seorang kafir ?

Siapa yang lebih tahu akan hukum hukum Allah, orang orang Syiah, ataukah Sayyidina Hasan ra putra Sayyidina Ali kw yang mendapat gelar sebagai Sayyidu Syabab Ahlil Jannah ?.

 

Dan apabila akan dibanding dengan Ulama Ulama Syiah, maka Sayyidina Hasan ra lebih tahu permasalahannya, karena beliau menyaksikan semua kejadian yang terjadi antara Sayyidina Ali kw dengan Muawiyah tersebut.

 

Memang saat itu kedua belah pihak, baik pengikut Muawiyah maupun pengikut Sayyidina Ali kw saling mencaci maki.

  Karenanya ketika Sayyidina Ali kw mendengar ada anak buahnya yang mencaci maki Muawiyah, beliau marah dan berkata :

 

 اِنّى أكْرَهُ لكمْ أنْ تكُونُوا سَبّابْينْ، لَكِنّكُمْ لَوْ وَصَفْتُمْ أَعْمَالَهُمْ، وَذَكَرْتُمْ حَالَهُمْ، كَانَ أَصْوَبَ فِى القَوْلِ وَأَبْلَغَ فِى العُذْرِ، وَقُلْتُمْ مَكَانَ سَبِّكُمْ اِيَّاهُمْ : اَللّهُمَّ أحْقِنْ دِمَاءَنَا وَدِمَاءَهُمْ، وَأَصْلِحْ ذَات بَيْنِنَا وَبَيْنَهُمْ.                            

                                            ( نهج البلاغة : 323 )

       

        “Aku tidak suka kalian menjadi pengumpat (pencaci maki), tapi andaikata kalian  tunjukkan  perbuatan mereka dan kalian  sebutkan keadaan mereka, maka hal yang demikian itu akan lebih diterima sebagai alasan. Selanjutnya kalian ganti cacian kalian kepada mereka dengan : “Yaa Allah selamatkanlah darah kami dan darah mereka, serta damaikanlah kami dengan mereka”.

                                                  ( Nahjul Balaghoh hal 323)

Sikap Sayyidina Ali kw dan putra putranya tersebut dikarenakan permasalahan mereka dengan Muawiyah hanya didalam masalah Politik saja, dan bukan dalam masalah Aqidah. Andaikata permasalahannya dalam Aqidah pasti sikap Sayyidina Ali kw akan berbeda.

  Hal ini dikuatkan oleh keterangan Sayyidina Ali kw, dimana dalam  suratnya kepada Ahli Amsor, beliau menceritakan mengenai apa yang terjadi antara beliau (Sayyidina Ali kw) dengan Ahli Syam (Muawiyah) dalam perang Siffin sbb:

 

كَانَ بَدْءُ اَمْرِنَا اَنَّا اِلْتَقَيْنَا وَالقَوْمْ مِنْ اَهْلِ الشَّامْ، وَالظَّاهِرْ اَنَّ رَبَّنَا وَاحِدْ، وَنَبِيَّنَا وَاحِدْ، وَدَعْوَتَنَا فِى الاِسلامِ وَاحِدْ، وَلاَ نَسْتَزِيْدُهُمْ فِى الاِيْمَانْ بِاللهِ وَالتَّصْدِيقْ بِرَسُولِهِ، وَلاَ يَسْتَزِيْدُوْنَنَا،  اَلاَمْرُ وَاحِدْ اِلاَّ مَا اخْتَلَفْنَا فِيْهِ مِنْ دَمِ عُثْمَانْ، وَنَحْنُ مِنْهُ بُرَاءٌ.              ( نهج البلاغة- 448 )

 

          ”Adapun mas’alah kita, yaitu telah terjadi pertempuran antara kami dengan ahli Syam (Muawiyah dan Syiahnya). Yang jelas Tuhan kita sama, Nabi kita juga sama dan da’wah kita dalam Islam juga sama. Begitu pula Iman kami pada Allah serta keyakinan kami kepada Rasululloh, tidak melebihi iman mereka, dan iman mereka juga tidak melebihi iman kami.

          Masalahnya hanya satu, yaitu perselisihan kita dalam peristiwa terbunuhnya ( Kholifah ) Usman, sedang kami dalam peristiwa tersebut, tidak terlibat.” 

                                                           (Nahjul Balaghoh – 448)

 

Demikian pengarahan Sayyidina Ali kw kepada anak buahnya dan semua orang yang mencintainya.

 

Sebenarnya bukan hanya Muawiyah yang dihukum kafir oleh golongan Syiah, Ummul Mukminin Aisyah ra dan anak buahnya dalam perang Jamal juga dihukum Kafir, karena dengan alasan yang sama, yaitu memerangi Sayyidina Ali kw.

 Padahal Sayyidina Ali kw setelah perang Jamal berakhir, beliau berkata bahwa Sayyidah Aisyah adalah Ummul Mukminin di dunia dan di akhirat.

  Selanjutnya oleh Kholifah Ali kw, semua orang yang mati dalam peperangan tersebut, beliau kumpulkan dan kemudian beliau sholati. Hal ini membuktikan bahwa semuanya adalah Muslimin.

  Itulah orang orang Syiah, mereka mengaku sebagai pengikut Sayyidina Ali kw, tapi kenyataannya perbuatan dan keyakinannya selalu menyimpang dari ajaran dan amalan Sayyidina Ali kw.

  Tapi kami tidak heran dengan ulah orang orang Syiah, jangankan Muawiyah, Sahabat Sahabat yang Mubasysyarin Bil Jannah seperti Sayyidina Abubakar ra dan Sayyidina Umar ra serta yang lain, juga mereka kafirkan.

  Benar apa yang telah disampaikan oleh Rasululloh SAW, bahwa mereka itu seakan akan mencintai Ahlul Bait, padahal tidak demikian dan tanda tanda mereka suka mencaci maki Abubakar dan Umar.

  Semoga kita digolongkan sebagai orang orang yang benar benar mencintai Rasululloh SAW, Ahlul Baitnya dan seluruh Sahabatnya.

 

Demikian sedikit mengenai sejarah Sahabat Muawiyah dan pandangan para Ulama Habaib terhadap Sahabat Muawiyah ra.

 

 ooOoo

 

 

Benarkah Kholifah Muawiyah Memerintahkan Agar Melaknat Sayyidina Ali kw  Di Mimbar Mimbar ?

 

Cerita ini atau tepatnya dongeng ini adalah berita bohong yang dinisbatkan kepada Kholifah Muawiyah dan Bani Umayyah, bahkan merupakan sesuatu yang batil atau yang tidak benar, yang sudah masuk dan dimuat didalam buku buku Ahlussunnah. Sehingga kejadian tersebut sepertinya atau seakan akan merupakan kejadian yang benar.benar terjadi. Dan ini merupakan kedholiman terhadap Kholifah Muawiyah dan Bani Umayyah.

Namun setelah kami amati dan cermati ternyata semua itu dikarenakan usaha dari satu kelompok untuk menjatuhkan kelompok yang lain yang didasari kefanatikan kepada satu aliran atau Madzhab.

 

Tuduhan seperti itu semestinya harus didukung dengan bukti bukti yang kuat yang otentic dan jelas sumbernya. Sedang selama ini yang dibawa oleh orang orang Syiah tidah jelas sumbernya, dan hanya disebutkan: “Sebagaimana disebutkan oleh Ahli sejarah”. Atau “Sebagaimana yang banyak tertera dalam buku buku sejarah”. Tidak didasari sumber dari kitab kitab rujukan yang telah disepakati oleh para ulama.

 

Sebenarnya Kholifah Muawiyah jauh dari apa yang dituduhkan tersebut, sebagaimana kesaksian para Sahabat akan keilmuannya baik dari segi ilmu Fiqih dan lainnya serta kedermawanannya.

Sehingga tidak mungkin orang seperti Kholifah Muawiyah yang dikenal cerdik dan lihai serta pandai dalam berdiplomasi untuk terang terangan memerintahkan agar melaknat Sayyidina Ali kw dalam mimbar mimbar. Dan tuduhan tersebut berakibat juga menuduh para Salaf yang memujinya ikut bersekongkel dalam pelaknatan tersebut dan terlibat dalam kedholiman.

Dan yang demikian itu bertentangan dengan sabda Nabi SAW : “Bahwa ummatku tidak akan bersatu dalam kesesatan”.

 

Sedang bagi orang yang berilmu yang mengetahui mengenai cara Kholifah Muawiyah dalam memerintah dan berkuasa yang dikenal dengan caranya yang pandai mempengaruhi rakyatnya dengan kedermawanannya serta berpolitic kelas tinggi, maka tuduhan tuduhan semacam itu kelihatan sekali merupakan kebohongan kebohongan yang tidak bisa diterima

Begitu pula tuduhan semacam itu tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya yang terjadi pada saat itu, serta tidak pernah disebut dalam buku buku yang ditulis oleh para ulama yang ada pada zaman itu. Dan hanya ditulis oleh orang orang sesudahnya yang berusaha ingin menjelekkan Bani Umayyah dan akan membuat citra baik terhadap Bani Abbasiyyah. Dimana seakan akan tekanan terhadap keturunan Sayyidina Ali kw yang dilakukan Bani Abbasiyyah lebih ringan jika dibanding dengan yang dilakukan oleh Bani Umayyah.

 

Bagaimana hal tersebut dilakukan oleh Kholifah Muawiyah sedang tidak ada riwayat yang kuat yang menerangkan bahwa Kholifah Muawiyah pernah melaknat Sayyidina Ali kw.

Kemudian mengapa pelaknatan terhadap Sayyidina Ali kw tersebut dialamatkan kepada Kholifah Muawiyah dan Bani Umayyah sedang mereka sudah menang dan berkuasa. Apakah mereka tidak tahu bahwa perbuatan tersebut justru dapat menjatuhkan posisi mereka dimata rakyat, sedang posisi mereka sudah baik dan berkuasa serta tidak ada gangguan?.

 

Itulah sebabnya Ibin Katsir dalam kitabnya Albidayah Wannihayah ketika beliau menyebut mengenai pelaknatan kepada Sayyidina Ali kw tersebut sebagai cerita yang tidak benar atau bohong.

 

Dalam kitab itu juga diceritakan, ketika Muawiyah mendengar berita wafatnya Kholifah Ali kw di Kufah, dia justru menangis. Kemudian ketika istrinya bertanya, bagaimana kau menangisinya sedang kau telah memeranginya. Maka Muawiyah menjawab: Celaka kau, kau tidak tahu bahwa orang orang sedang kehilangan satu orang yang mempunyai keistimewaan dan keutamaan serta menguasai berbagai ilmu.

Dalam kitab Iqdul Farid diceritakan, pada suatu hari Kholifah Muawiyah dalam majlisnya dihadapan tamu tamunya berkata:

 

من أكرم الناس أباً و أماً و جداً و جدة ؟ فقالوا: أمير المؤمنين أعلم, فأخذ بيد الحسن و قال: هذا أبوه علي بن أبي طالب، و أمه فاطمة بنت محمد صلى الله عليه وسلم، وجده رسول الله صلى الله عليه وسلم، و جدته خديجة رضي الله عنها.

                ( كتاب العقد الفريد لابن عبد ربه الأندلسي)

 

 “Siapa orang yang paling terhormat baik ayahnya, ibunya, datuknya dan neneknya”?. Para tamunya menjawab: “Amirul Mukmininlah yang lebih tahu”. Maka Kholifah Muawiyah sambil mengangkat tangan Sayyidina Hasan ra berkata: “Ini, ayahnya Ali bin Abi Tholib, ibunya Fathimah binti Muhammad SAW dan datuknya Rosululloh SAW dan neneknya Khodijah ra”.

 

Diceritakan juga suatu saat ketika Kholifah Muawiyah menasehati Yazid putranya dan menerangkan mengenai keutamaan Sayyidina Husin ra, dia berkata:

                                                                          

قال معاويه ليزيد: "جده خير من جدك وأبيه خير من أبيك وهو خير منك".

 

 “Ketahuilah bahwa datuknya lebih baik dari datukmu dan ayahnya lebih baik dari ayahmu dan dia lebih baik dari pada kamu”.

 

Juga diceritakan baik dalam kitab kitab Ahlussunnah maupun kitab kitab Syiah, bahwa pada suatu hari Kholifah Muawiyah meminta kepada Dhiror agar menyampaikan keutamaan Sayyidina Ali kw, maka setelah Dhiror selesai menyampaikan pujian pujiannya terhadap Sayyidina Ali kw, Kholifah Muawiyah menangis sampai basah jenggotnya, dan sambil mengusap air matanya dia berkata, “Benar, memang begitu dia, bahkan demi Alloh, dia lebih baik dari apa apa yang sudah kau sampaikan”.

 

Ini semua menunjukkan sikap baik dan pengakuan Kholifah Muawiyah akan keutamaan dan keistimewaan Sayyidina Ali kw.

Bahkan ketika Sayyidina Hasan ra dan Sayyidina Husin ra datang kepada Kholifah Muawiyah, maka Kholifah Muawiyah menyambutnya dengan rasa senang dan berkata “Marhaban Wa Ahlan wahai putra putra Rosululloh SAW”. Kemudian dihadiahkan kepada mereka dua ratus ribu dirham. Dan dalam kesempatan yang lain dihadiahkan tiga ratus ribu dirham.

                                                    (Albidayah Wannihayah)

 

Demikian hubungan baik antara putra putra Sayyidina Ali kw dengan Kholifah Muawiyah. Sekaligus menolak tuduhan tuduhan yang dialamatkan kepada Kholifah Muawiyah, mengenai perintahnya agar melaknat Sayyidina Ali bin Abi Tholib kw dalam mimbar mimbar. .

Karena apabila tuduhan tuduhan tersebut betul terjadi, maka mungkinkah Sayyidina Hasan ra dan Sayyidina Husin ra mau menerima hadiah hadiah dari Kholifah Muawiyah ?.

Jawabnya, pasti tidak mau menerimanya. Dan ini semua bagi orang yang berilmu membuktikan kebohongan cerita tersebut.

 

Ada satu pertanyaan kepada anda yang mengatakan bahwa Muawiyah melaknat Sayyidina Ali kw dan memerintahkan agar melaknat Sayyidina Ali di mimbar mimbar.

“Jika ada pejabat yang kaya raya dan tiap tahun dia memberi anda uang dengan jumlah yang besar, tapi dia melaknat ayah anda dan memerintahkan orang lain untuk melaknat ayah anda, apakah anda akan menerima pemberian uang dari pejabat tersebut?.

Jawabnya: Pasti anda tidak mau menerima pemberiannya tersebut.

Kalau begitu berarti anda lebih baik dari Sayyidina Hasan ra dan Sayyidina Husin ra. Ayahnya dilaknat oleh Muawiyah tapi mereka mau menerima pemberian Muawiyah.

 

Karenanya gunakan akal sehat anda, jangan segala cerita anda telan. Sebab yang demikian itu justru menghina Sayyidina Hasan ra dan Sayyidina Husin ra.

 

Bahkan yang tidak masuk akal lagi dan kelihatan sekali kebohongannya adalah yang dikatakan oleh mereka bahwa pelaknatan terhadap Sayyidina Ali kw tersebut berjalan selama delapan puluh tiga tahun dan dalam keterangan mereka yang lain dikatakan berjalan sampai sembilan puluh tahun.

Kemudian menurut mereka pelaknatan tersebut berakhir dizaman Kholifah Umar bin Abdul Aziz ra, dimana Kholifah Umar melarangnya dan menggantinya dengan sebuah doa.

 

Pembaca yang kami hormati.

Bagaimana dikatakan bahwa pelaknatan tersebut berjalan selama sembilan puluh tahun, padahal jarak meninggalnya Kholifah Ali kw dengan meninggalnya Kholifah Umar bin Abdul Aziz ra hanya berjarak enam puluh satu tahun. Dimana Kholifah Ali kw wafat pada tahun empat puluh Hijriyyah, sedang Kholifah Umar bin Abdul Aziz ra wafat pada tahun seratus satu Hijriyyah.

Cara berhitung yang bagaimana yang digunakan untuk menghitungnya ?.

 

Dengan demikian tuduhan pelaknatan tersebut merupakan kebohongan dengan tujuan akan merusak nama baik para Sahabat. Karena apabila pelaknatan tersebut terus berjalan, sedang para Sahabat tidak mengambil sikap yang tegas, berarti mereka terlibat dalam pelaknatan tersebut. Padahal mereka tahu bahwa Rosululloh SAW melarang pelaknatan terhadap seorang Mukmin.

 

Semoga kajian diatas dapat menambah keyakinan kita bahwa tuduhan terhadap kholifah Muawiyah diatas merupakan usaha orang orang Syiah yang akan mengadu domba dan memecah belah kekuatan kaum Muslimin.

 

Wallohu A’lamu Bisshowaab.

 

 

Pembaca yang kami hormati.

Ada beberapa masalah yang perlu kami sampaikan disini:

Berbeda dengan ketika Sayyidina Ali kw menjadi Kholifah, dimana selalu terjadi pemberontakan pemberontakan, sampai terjadi perang Jamal, terjadi perang Siffin dan terjadi perang Nahrowan, maka ketika Sahabat Muawiyah menjadi Kholifah, setelah Sayyidina Hasan ra menyerahkan kekholifahan kepadanya, maka pemerintahannya berjalan dengan aman, tidak ada gangguan dari dalam negeri. Sehingga banyak Futuuhaat Islamiyyah yang dilakukan dizaman Kholifah Muawiyah.

 

Juga ada satu catatan yang perlu kita fahami, bahwa kita Ahlussunnah Wal Jamaah juga berkeyakinan, bahwa disaat perang Siffin, Kholifah Ali kw berada difihak yang benar dan beliau adalah Kholifah ke empat yang sah. Ijtihadnya benar (yaitu dalam mengambil keputusan mengenai Qishos terhadap orang orang yang memberontak dan membunuh Kholifah Utsman ra), karenanya beliau mendapat dua Pahala. Sedang Muawiyah dianggap memberontak terhadap pemerintahan yang sah, ijtihadnya salah (yaitu ketika dia meminta agar pembunuh Kholifah Utsman diadili dulu baru dia baiat), karenanya dia hanya mendapat satu Pahala.

Menurut para ulama, keduanya mendapat Pahala, karena keduanya menginginkan kebaikan bagi islam dan keduanya bersandar kepada Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW.

(baca: Proses pembaiatan Sayyidina Ali kw sebagai Kholifah).

 

Demikian keterangan para ulama, termasuk para ulama Ahlul Bait  (Habaib).

Semoga apa yang selama ini kita dengar, yaitu ada perintah dari Muawiyah agar melaknat Sayyidina Ali kw dalam mimbar mimbar, terjawab dengan adanya keterangan keterangan diatas.

 

Akhirnya yang pelu kami sampaikan adalah, bahwa tulisan tulisan kami mengenai Kholifah Muawiyah diatas adalah merupakan usaha kami untuk tidak membesar besarkan peristiwa peristiwa yang terjadi antara Sahabat yang satu dengan Sahabat yang lain. Sebab mereka adalah orang orang yang telah berjasa terhadap Islam dan Muslimin. Sedang kita apa yang sudah kita perbuat terhadap Islam dan Muslimin.