KHALIFAH UTSMAN RA.

Berisi

1. Kholifah Utsman ra

2. Nasab Sayyidina Utsman ra

3. Pemberontakan Terhadap Kholifah Utsman ra

 

Kholifah Utsman ra

 

Kholifah Utsman Ibnu Affan ra adalah famili Rosululloh SAW, karena Ibunya yang bernama Urwah adalah sepupu Rosululloh SAW.

Sedang Urwah adalah putri dari Ammahnya Rosululloh SAW yang bernama Ummu Hakim Albaidhok binti Abdul Muttolib yang bersaudara dengan Sayyidina Abdulloh ayah Rosululloh SAW. Dengan demikian Sayyidina Ali kw juga adalah sepupu dari ibu Sayyidina Utsman ra.

Beliau Sayyidina Utsman adalah menantu Rosululloh SAW. Bahkan beliau menikah dengan dua putri Rosululloh SAW. Dimana setelah istrinya yang pertama Rugayyah binti Rosulillah SAW meninggal, maka beliau menikah dengan Ummu Kaltsum binti Rosulillah SAW.

Sayyidina Ali kw pernah mendengar dari Rosululloh SAW mengenai keistimewaan Sayyidina Utsman ra, dimana beliau melukiskan Sayyidina Utsman ra sebagai orang yang cahayanya menyinari penghuni langit, dan bagaikan matahari yang menerangi bumi.

Sayyidina Ali kw juga pernah mendengar dari Rosululloh SAW sebagai berikut: “Setiap Nabi mempunyai teman, dan temanku di Surga adalah Utsman Ibnu  Affan”.

Kemudian disaat Sayyidina Ali kw mendengar ada orang orang yang mencela Kholifah Utsman ra, beliaupun marah, dan beliau justru memujinya seraya berkata: “Andaikata aku yang diserahi jabatan kepemimpinan ummat seperti Utsman, niscaya aku juga akan menempuh jalan yang ditempuh oleh Utsman”.

Selanjutnya beliau Sayyidina Ali kw memuji Kholifah Utsman ra, diantaranya beliau berkata:

Dhunnurain demikian nama (julukan) yang diberikan oleh Malaikat kepada Sayyidina Utsman ra. Beliaulah yang dengan harta kekayaannya membantu Rosululloh SAW disaat Muslimin membutuhkan dana guna kebutuhan persiapan peperangan. Beliaulah yang dengan hartanya membeli dengan harga yang sangat tinggi sumber air Roumah milik seorang Yahudi, untuk kepentingan Muslimin di Madinah. Sehingga sejak itu Muslimin tidak kekurangan air minum lagi. Beliaulah yang menghabiskan sebagian kekayaannya dengan membagikan makanan dan pakaian bagi penduduk Madinah dimusim paceklik dengan jumlah yang sangat besar. Beliaulah yang sering membeli dan kemudian memerdekakan beratus ratus budak dengan uangnya sendiri. Beliaulah yang merenofasi dan memperluas Masjid Nabawi dengan dana dari uangnya pribadi.

Disamping itu beliau adalah seorang sholeh yang tekun beribadah, selalu membaca Al Qur’an. Beliaulah yang apabila makan sangat sederhana, cukup roti kering yang dioles dengan minyak, tapi beliau justru memberi makan orang lain dengan daging, madu dan samin. Hampir sepanjang masa beliau kelihatan berpuasa.

Diantara jasa dan inisiatif Kholifah Utsman ra yang sampai sekarang kita pakai dan ikuti adalah Al-Qur’an yang kita baca sekarang ini. Saat itu kholifah Utsman ra menghadapi keadaan yang menghawatirkan, dimana saat itu Muslimin diberbagai daerah membaca Al-Qur’an dengan cara yang berlainan. Mereka berbeda faham dalam menyikapi cara membaca Al-Qur’an, sehingga masing masing merasa dirinya yang benar.

Kholifah Utsman ra kemudian mengumpulkan tokoh tokoh Sahabat dan diberitahukan mengenai kehawatirannya akan bahaya yang akan timbul akibat perselisihan dari perbedaan bacaan Kitabulloh (Al-Qur’an). Beliau menegaskan keadaan ini tidak boleh terjadi dan harus dihentikan.

Beliau kamudian meminta kepada Ummul Mukminin Hafshoh ra untuk menyerahkan lembaran lembaran Al-Qur’an yang ditulis oleh Sayyidina Ali kw dan Zeid bin Tsabit pada masa kekhalifahan Abubakar ra, yang kemudian dititipkan oleh Kholifah Umar ra kepada putrinya Hafshoh ra.

Selanjutnya Kholifah Utsman ra mengumpulkan beberapa Sahabat dan kepada mereka Kholifah meminta agar menghimpun lembara lembaran tersebut menjadi satu naskah. Kemudian beliau berpesan, apabila berbeda pendapat, maka beliau berpesan agar kembali kedialek Quraisy. Hal mana karena Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa arab dialek Quraisy.

Hasilnya kemudian dikirim kedaerah daerah, dengan pesan agar apabila membuat baru supaya penulisan Mus’haf selanjutnya harus sama dan seragam dengan yang dikirim oleh Kholifah. Selanjutnya semua catatan catatan mengenai Mushaf (Al-Qur’an) yang lain supaya dibakar.

Usaha dan inisiatif Kholifah Utsman ra ini membuat Sayyidina Ali kw dan para Sahabat merasa gembira.

Namun yang disayangkan, disamping keistimewaan keistimewaan Kholifah Utsman ra yang kami sebutkan tersebut, mungkin karena sudah lanjutnya usia beliau, ternyata Kholifah Utsman ra  bisa dipengaruhi oleh familinya. Diantara yang terkenal dalam sejarah adalah Marwan bin Hakam.

Hal hal inilah yang akhirnya membuat banyak orang didaerah daerah yang tidak suka dan tidak puas dengan kebijaksanaan kebijaksanaan Kholifah Utsman ra.

Dalam hal ini Sayyidina Ali kw sudah berkali kali menasihatinya. Namun karena lihainya lobi yang dilakukan oleh Marwan bin Hakam cs, banyak saran Sayyidina Ali kw yang tidak dilaksanakan oleh Kholifah Utsman.ra

Namun meskipun demikian keadaannya, tapi disaat pemberontak berusaha mengepung kediaman Kholifah Utsman ra, Sayyidina Ali kw segera memerintahkan kedua putranya Sayyidina Hasan ra dan Sayyidina Husin ra untuk menjaga dan melindungi Kholifah Utsman ra.

Memang ketika para Sahabat bermaksud menjaga kediaman Kholifah Utsman ra, beliau menolak tidak mau dijaga dan semuanya dipasrahkan kepada Alloh. Sehingga para pemberontak bebas berbuat semaunya.

Sayyidina Ali kw begitu diberi tahu bahwa Kholifah Utsman ra pagi ini terbunuh, beliau segera bergegas menuju kekediaman Kholifah Utsman ra dan menanyakan mengenai pembunuh pembunuh tersebut. Tapi karena tidak diketahui dengan pasti siapa saja pembunuhnya dan hanya diketahui bahwa mereka adalah orang orang yang datang dari Mesir dan kota kota lain, maka Sayyidina Ali kw tidak dapat berbuat banyak. Bahkan karena marahnya, Sayyidina Ali kw sampai menampar putra putranya, dikarenakan dapat lolosnya beberapa pemberontak masuk kekediaman Kholifah Utsman ra dan membunuh beliau.

Padahal masuknya pemberontak tersebut lewat jalan belakang dan tidak diketahui oleh Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husin Rodhi Allohu  Anhuma.

Beliau Kholifah Utsman ibnu Affan ra. dibunuh (Syahid) dalam keadaan sedang membaca Al-Qur’an.

Dalam Tarikh Thobari diceritakan bahwa Kholifah Utsman Ibnu Affan ra meninggal pada hari Jum’at pagi delapan belas Dhulhijjah tahun tiga puluh lima Hijriyyah. Dan umurnya saat itu delapan puluh dua tahun.

Diantara para Sahabat yang memandikan dan mengkafani adalah Hakim bin Hizam, Abul Jahm bin Khudhaifah, Zubair Ibnul Awwam dan Sayyidina Ali kw serta beberapa orang teman Kholifah dan Istri Istri Kholifah Utsman, diantaranya adalah Nailah dan Ummul Banin bintiUtbah bin Khushoin.

Dalam kitab Musnad Imam Ahmad diterangkan, bahwa yang menjadi imam dalam sholat jenazah tersebut adalah Sahabat Zubair Ibnul Awwam ra, atas wasiat Kholifah Utsman ra. Malam hari itu juga antara maghrib dan isyak, jenazah beliau dimakamkan di pemakaman Baqi’.

Imam Nawawi ketika menerangkan mengenai pembunuhan tersebut, bahwa tidak seorangpun dari para Sahabat yang terlibat dalam pembunuhan Kholifah Utsman ra.

Inna Lillah Wa Inna Ilaihi Rojiuun.

 

 

 

Nasab Sayyidina Utsman ra

 

 

                                     

                                         Qushoi

                                              Y

                                     Abdu Manaf

                                              Y

                   Hasyim ----------------- ---------  Abdu Syams

                        Y                                               Y

              Abdul Muttholib                              Umayyah

                        Y                                               Y

     Y------------Y---------------------Y                 Y               

Abu Tholib   Abdulloh  (Ummu Hakim AlBaidho’)    Abul Ash   

           Y                Y                            Y                  Y

        Ali kw      Muhammad saw              Urwah     +       Affan

                               Y                                      Y

                           Fathimah ra                         Utsman ra

 

 

Hubungan Nasab Sayyidina Utsman ra dengan Rosululloh SAW dan Sayyidina Ali kw :

Ibu Sayyidina Utsman ra adalah Urwah, sepupu (Misanan) dengan Rosululloh SAW dan Sayyidina Ali kw. Ketiganya adalah cucu Sayyidina Abdul Muttholib bin Hasyim.

Dengan demikian Nasab Sayyidina Utsman ra dari ibunya bertemu dengan Rosululloh SAW dan Sayyidina Ali kw di Abdul Muttholib bin Hasyim.

Sedang dari ayahnya bertemu di Abdu Manaf, beliau adalah Utsman bin Affan bin Abul Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushoi).

 

 

 

Pemberontakan

 Terhadap Kholifah Utsman ra

Dipertengahan dari pemerintahannya kira kira mulai tahun ketujuh dari pemerintahannya Kholifah Utsman ra mulai menjadi pembicaraan masyarakat, terutama penduduk Mesir, Basrah dan Kufah. Sebab banyak dari famili Kholifah Utsman ra yang diangkat untuk menduduki jabatan Amir di daerah daerah. Apalagi saat itu Abdullah bin Saba’ (pencetus faham Syiah) sudah mulai menebarkan fitnahnya, dia kesana kemari menghasud masyarakat agar memberontak terhadap Kholifah Utsman ra.

Akibatnya sebanyak tujuh ratus orang dari penduduk Mesir berangkat ke Madinah dan menghadap Kholifah Utsman ra, mereka meminta kepadanya agar mengganti Amir Mesir yang bernama Abdulloh bin Abi Sarah.

Mengetahui akan kedatangan dan tujuan mereka, maka Sayyidina Ali kw, Sayyidina Tholkhah ra dan Siti Aisyah ra segera mendatangi Kholifah Utsman ra, untuk memberi saran agar Amir Mesir itu diganti.

Kemudian Kholifah Utsman ra berkata kepada orang orang Mesir tersebut: “Pilihlah seseorang untuk aku angkat sebagai gantinya”.

Maka mereka kemudian memilih Muhammad bin Abubakar Asshiddiq ra untuk menggantikan Abdullah bin Abi Sarah sebagai Amir Mesir.

Selanjutnya setelah Kholifah Utsman ra mengumumkan keputusannya mengangkat Muhammad bin Abubakar, maka orang orang Mesir tersebut segera kembali ke Mesir dan ikut bersama mereka beberapa orang Muhajirin dan Anshor yang ingin tahu apa yang akan terjadi antara mereka dengan Abdulloh bin Abi Sarah.

Tidak berapa lama berangkatlah Muhammad bin Abubakar ra bersama orang orangnya ke Mesir.

Namun ketika mereka baru meninggalkan Madinah, dan perjalanan baru berjalan tiga hari, mereka melihat ada seorang pemuda hitam mengendarai kuda dengan kecepatan yang luar biasa, kelihatan sekali kalau dia sedang tergesa gesa.

Karenanya orang orangnya Muhammad bin Abubakar segera menghentikan pemuda tersebut dan kemudian menanyainya: “Apa yang terjadi, kelihatannya kau separti orang yang melarikan diri atau sedang mengejar sesuatu”.

Dia menjawab: “Aku adalah pembantunya Kholifah Utsman, aku diperintahkan untuk menemui penguasa Mesir”.

Maka salah satu dari orang orang itu mengatakan: “Itu penguasa Mesir yang kau cari”.

Lalu dia menjawab: “Bukan dia yang saya kehendaki”.

Selanjutnya ketika Muhammad bin Abubakar ra diberi tahu akan kejadian tersebut, maka dia segera memerintahkan agar pembantu tersebut dibawa kehadapannya.

Kemudian Muhammad bin Abubakar ra bertanya kepada orang tersebut: “Siapa kau?”.

Dalam keadaan gugup karena ketakutan, dia sebentar mengaku sebagai pembantunya Kholifah Utsman ra dan sebentar mengaku sebagai pembantunya Marwan.

Tapi kemudian dari rombongan Muhamad bin Abubakar ada yang tahu bahwa dia adalah milik Kholifah Utsman ra.

Kemudian Muhammad bin Abubakar ra bertanya lagi: “Kepada siapa kau diutus?”.

Dia menjawab: “Kepada penguasa Mesir”.

Muhammad bertanya lagi: “Dengan apa?”.

Dia menjawab: “Dengan surat”.

Muhammad : “Apa suratnya ada di kamu?”.

Dia jawab: “Tidak”.

Tapi setelah diperiksa, ternyata surat tersebut dia sembunyikan dalam lipatan kain.

Selanjutnya Muhammad bin Abubakar mengumpulkan semua orang yang ada bersamanya, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshor, untuk bersama sama membuka dan mengetahui isi surat tersebut.

Ternyata isi surat tersebut sbb: “Apabila sampai kepadamu Muhammad dan Fulan serta Fulan, maka bunuhlah mereka, dan jangan kau laksanakan isi suratnya, tapi teruskan tugasmu sampai datang perintah berikutnya dari aku”.

Setelah membaca isi surat tersebut, mereka terkejut serta merasa takut dan diputuskan untuk segera kembali ke Madinah. Surat tersebut segera ditanda tangani oleh Muhammad dan beberapa orang yang ikut membacanya dan selanjutnya surat tersebut dibawakan salah seorang dari mereka.

Selanjutnya setelah mereka sampai di Madinah, mereka segera mengumpulkan tokoh tokoh Sahabat, diantaranya Sayyidina Ali kw, Tholhah ra, Zubair ra dan Saad ra serta yang lain, untuk diberi tahu mengenai pembantu Kholifah Utsman dan surat tersebut.

Setelah mereka diberi tahu akan surat tersebut, maka tidak seorangpun dari mereka yang sudah mengetahui isi surat tersebut terkecuali marah kepada Kholifah Utsman ra.

Tidak lama kemudian kelihatan beberapa orang mulai mengepung tempat Kholifah Utsman ra.

Namun ketika Sayyidina Ali kw melihat ada orang orang yang mengepung tempat Kholifah Utsman ra, maka Sayyidina Ali kw bersama Tholhah ra, Zubair ra dan Saad ra serta beberapa tokoh Sahabat lainnya masuk ke tempat Kholifah Utsman ra dan bersama mereka pembantu tersebut dan kudanya serta surat tersebut.       

Selanjutnya begitu bertemu dengan Kholifah Utsman ra, Sayyidina Ali kw segera bertanya:“Apa ini orang pembantumu?”

Maka Kholifah Utsman ra menjawab :  ”Ya”.

Sayyidina Ali kw bertanya lagi: “Apa ini kudamu ?”.

Kholifah Utsman ra menjawab: “Ya”.

Kemudian Sayyidina Ali kw melanjutkan: “Kalau begitu kau yang menulis surat ini ?”.

Kholifah Utsman ra menjawab: ”Tidak”.

Kemudian Kholifah Utsman ra bersumpah : “Demi Alloh aku tidak menulis ini surat dan aku tidak memerintahkannya bahkan aku tidak mengetahui mengenai surat in”i.

Sayyidina Ali kw bertanya lagi: “Apa ini setempelmu ?”.

Kholifah Utsman ra menjawab: “Ya”.

Sayyidina Ali kw melanjutkan: ”Bagaimana pembantumu bisa pergi dengan menaiki kudamu serta membawa surat yang ada setempelmu sedang kau tidak mengetahuinya ?.

Kemudian Kholifah Utsman ra bersumpah lagi: “Demi Alloh aku tidak menulis surat ini dan aku tidak memerintahkan untuk menulisnya dan aku tidak pernah mengutus pembantu ini ke Mesir”.

Kemudian diketahui bahwa tulisan tersebut adalah tulisannya Marwan bin Hakam (menantu Kholifah Utsman). Dan mereka yakin bahwa Kholifah Utsman tidak berbohong dalam sumpahnya.

Selanjutnya mereka meminta agar Marwan bin Hakam yang sedang berada ditempat Kholifah Utsman ra diserahkan kepada mereka. Tapi Kholifah Utsman ra tidak mau menyerahkannya, sebab beliau takut Marwan bin Hakam dibunuh.      

Mengetahui sikap Kholifah Utsman ra tersebut, maka Sayyidina Ali kw dan para Sahabat lainnya segera keluar dari tempat Kholifah Utsman ra dalam keadaan kecewa dan marah, masing masing langsung pulang kerumahnya.

Sedang diluar kediaman Kholifah Utsman ra orang orang yang berkumpul semakin banyak, bahkan kemudian berdatangan dari Basrah dan Kufah

Sehingga akhirnya kota Madinah penuh dengan orang orang yang berdatangan dari mana mana dan dari berbagai Gobail. Mereka mengepung kediaman Kholifah Utsman ra.     

Sedang para Sahabat yang berada di kota Madinah tidak bisa berbuat apa apa, terkecuali apabila ada perintah untuk memerangi mereka, tapi Kholifah Utsman ra justru tidak menghendaki adanya pertempuran. Semuanya beliau serahkan kepada Alloh.     

 Tidak berapa lama kemudian persediaan air minum dikediaman Kholifah Utsman ra sudah habis, sedang pasukan yang mengepung kediamannya melarang orang untuk mengirim air kedalam.

Selanjutnya Kholifah Utsman ra melihat keluar dari atas rumahnya dan berkata kepada orang orang yang sedang mengepung rumahnya: “Apakah ada Ali diantara kalian?”.

Maka mereka menjawab: “tidak ada”.

Kemudian Kholifah bertanya lagi: ”Apakah ada Saad”?

Mereka menjawab:”Tidak ada”.

Kemudian beliau terdiam, tapi kemudian beliau berkata lagi: ”Apakah ada yang bisa menyampaikan ke Ali agar dia mengirim air untuk kami”.

Setelah permintaan tersebut sampai ke Sayyidina Ali kw, maka beliau segera mengirim air, tapi air tersebut sampai kedalam rumah Kholifah setelah ramai berebut dengan orang orang yang ada disitu.      

Kemudian ketika Sayyidina Ali kw mendengar bahwa orang orang tersebut akan membunuh Kholifah Utsman.ra, maka beliau marah seraya berkata: “Yang kita inginkan adalah Marwan, adapun kalian sampai akan membunuh Kholifah Utsman, maka saya tidak setuju”.

Karenanya Sayyidina Ali kw segera memerintahkan Sayyidina Hasan ra dan Sayyidina Husin ra untuk menjaga kediaman Kholifah Utsman ra dengan membawa senjata.

Begitu pula Sayyidina Tholhah ra dan Sayyidina Zubair ra keduanya juga memerintahkan putra putranya untuk ikut menjaga rumah Kholifah Utsman ra bersama Sayyidina Hasan ra dan Sayyidina Husin ra serta putra putra Sahabat yang lain.

Tapi lagi lagi Kholifah Utsman ra tidak mau terjadi keributan, beliau tidak mau ada darah yang mengalir gara gara beliau. Semua beliau pasrahkan kepada Alloh. Tapi Sayyidina Hasan ra dan Sayyidina Husin ra tetap menjaganya.

Selanjutnya ketika pengepungan semakin ketat, maka masuklah Sayyidina Ali kw bersama beberapa tokoh Sahabat dari Muhajirin dan Anshor kerumah Kholifah Utsman ra. Kemudian Sayyidina Ali kw berkata: “Perintahlah kami untuk berperang dalam rangka membelamu”. Tapi Kholifah Utsman ra tidak mengijinkan, bahkan memerintahkan agar Sayyidina Ali kw dan para Sahabat pulang dan menyerahkan semuanya kepada Alloh.

Kemudian Sayyidina Ali kw keluar dari kediaman Kholifah Utsman ra sambil berdoa, ”Ya Alloh engkau maha mengetahui bahwa aku telah berusaha semaksimal mungkin”.       

Sayyidina Abdulloh bin Abbas ra termasuk orang orang yang menjaga dipintu rumah Kholifah Utsman ra bersama Sayyidina Hasan ra dan Sayyidina Husin ra.

Namun ketika Kholifah Utsman ra memintanya agar dia pergi haji bersama orang orang yang mau haji, maka dia berkata: “Jihad menghadapi mereka (orang orang yang sedang mengepung rumah Kholifah Utsman ra) lebih aku sukai dari pada berhaji”.

Tapi karena dipaksa oleh Kholifah Utsman ra, maka beliaupun segera berangkat bersama orang orang yang akan melaksanakan haji.

Akhir dari pengepungan tersebut, ada beberapa orang dari mereka yang sedang mengepung itu berusaha lewat belakang, mereka naik pagar rumah seorang Anshor tetangga Kholifah Utsman ra dan kemudian dari situ naik keatas rumah Kholifah Utsman ra, tanpa diketahui oleh orang orang yang menjaga dipintu depan, dan tidak diketahui oleh orang orang yang berada didalam rumah Kholifah Utsman ra.

Selanjutnya ketika mereka masuk keruangan Kholifah, mereka dapatkan Kholifah Utsman ra sendirian sedang membaca Al Qur’an, dan tidak ada orang yang menjaganya kecuali istrinya.  

Kemudian disaat terjadi pembunuhan, istrinya yang berada disebelahnya ketika melihat Kholifah Utsman ra akan dibunuh, maka dia segera merangkulnya, sehingga beberapa jarinya putus terkena pedang.

Tidak ada yang mengetahui dengan pasti siapa pembunuh Kholifah Utsman ra, sebab istrinya yang menjadi saksi hanya mengetahui bahwa pembunuhnya adalah dua orang yang berasal dari Mesir.

Setelah membunuh Kholifah Utsman ra, maka kedua orang tersebut segera melarikan diri. Saat itu juga istri Kholifah berteriak memberi tahukan bahwa Kholifah Utsman ra telah terbunuh.

Mendengar teriakan istri Kholifah, maka masuklah Sayyidina Hasan ra dan Sayyidina Husin ra serta orang orang yang bersamanya, mereka mendapatkan Kholifah Utsman ra sudah terbunuh. Merekapun segera merangkul Kholifah Utsman ra sambil menangis.      

Tidak lama kemudian datanglah Sayyidina Ali kw, Sayyidina Tholhah ra, Sayyidina Zubair ra dan para Sahabat yang lain, mereka terkejut mendengar berita terbunuhnya Kholifah Utsman ra.

Kemudian Sayyidina Ali kw bertanya kepada kedua putranya: ”Bagaimana Kholifah bisa terbunuh sedang kalian menjaga dipintu?”. Maka setelah diberi tahu bahwa pembunuh pembunuh tersebut loncat lewat belakang, maka Sayyidina Ali kw tetap marah, bahkan kedua putranya sampai ditempeleng.

Selanjutnya Sayyidina Ali kw bertanya kepada istri Kholifah Utsman ra mengenai siapa pembunuhnya, maka istri Kholifah menjawab, bahwa beliau tidak kenal. “Masuk kepadanya dua orang yang tidak aku kenali dan kemudian membunuhnya”. 

Saat itu berhembus fitnah, bahwa yang membunuh Kholifah Utsman ra adalah Muhammad bin Abubakar. Karenanya Sayyidina Ali kw segera bertanya kepada istri Kholifah Utsman ra mengenai kebenaran berita tersebut.

Kemudian istri Kholifah Utsman ra menjawab: “Bukan, bukan dia yang membunuh. Muhammad masuk sebelum dua orang yang membunuh tersebut masuk kerumah. Saat itu Muhammad memegang jenggotnya Kholifah Utsman ra, tapi Kholifah berkata, andaikata ayahmu melihatmu saat ini, pasti perbuatanmu terhadapku ini akan menyakitkannya, kemudian Muhammad gemetar dan segera keluar dari rumah”.

Setelah mendengar keterangan tersebut Sayyidina Ali kw segera memanggil Muhammad dan menanyainya mengenai apa yang telah disampaikan oleh istri Kholifah Utsman ra tersebut.

Kemudian Muhammad menjawab: “Dia tidak justa sama sekali, memang aku telah masuk kepadanya untuk membunuhnya, tapi saat itu dia menyebut nyebut ayahku, sehingga aku mengurungkan niatku, saat itu aku bertobat kepada Alloh dan segera keluar dari rumahnya. Demi Alloh aku tidak membunuhnya”.

Mendengar apa yang telah disampaikan oleh Muhammad bin Abubakar tersebut, maka istri Kholifah Utsman ra berkata: “Benar, itulah kejadiannya”.    

Ibin Asakir meriwatyatkan dari Abi Kholdah Alhanafi, beliau mengatakan, aku telah mendengar Ali rodhiyallohu anhu berkata: ”Bani Umayyah mengatakan bahwa aku telah membunuh Utsman, padahal demi Alloh aku tidak membunuhnya, dan tidak condong untuk membunuhnya, tapi aku justru melarang mereka, tapi aku tidak dihiraukan”.  

Juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Rodhiyallohu Anhuma, bahwa Ali ra pernah berkata: ”Demi Alloh aku tidak membunuh Utsman, dan tidak pernah memerintahkan untuk membunuhnya, tapi aku justru melarang mereka”.

Demikian pemberontakan yang mengakibatkan terbunuhnya Kholifah Utsman ra, serta sikap Sayyidina Ali kw terhadap orang orang tersebut.        

Wallohu A’lamu Bish’showaab.