KHALIFAH UMAR RA.

Berisi

1. Proses Penunjukan Sayyidina Umar ra sebagai Kholifah

2. Hubungan Kholifah Umar Dengan Sayyidina Ali

3. Kepedulian Kholifah Umar ra Dan Sayyidah Ummu Kaltsum Binti Ali kw Terhadap Rakyatnya

4. Sayyidina Umar ra Dan Penanggalan Hijriyah

5. Majlis  Syuro Dan Wafatnya Kholifah Umar ra.

 

 

 

Proses Penunjukan Sayyidina Umar ra sebagai Kholifah

 

Diakhir akhir umurnya, Kholifah Abubakar As Shiddiq ra berkeinginan untuk mengangkat Sayyidina Umar Ibnul Khotthob ra sebagai Kholifah menggantikan dirinya apabila beliau wafat.

Tentu rencananya tersebut akan dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan tokoh tokoh Sahabat.

Untuk itu suatu hari ketika beliau dalam keadaan sakit, beliau memanggil Sayyidina Abdurahman Bin Auf ra untuk dimintai pendapatnya. Dan setelah Kholifah Abubakar ra menyampaikan keinginannya tersebut, terjadilah dialog antara Kholifah Abubakar ra dengan Sayyidina Abdurahman Bin Auf ra.

Sayyidina Abdurahman Bin Auf ra pada pokoknya setuju dengan rencana Kholifah Abubakar ra tersebut, meskipun dia tahu bahwa Sayyidina Umar ra orangnya keras.

Karenanya beliau berkata, “Memang dia yang layak menjadi kholifah, tetapi dia orangnya sangat keras”. Kholifah Abubakar ra menjawab, “Dia keras itu karena melihat aku terlalu lunak”. Buktinya kalau aku sedang marah keras dia justru memintaku agar aku tidak keras keras”. Sebaliknya kalau dia melihatku lunak, dia memintaku agar aku agak keras dan tegas”. “Harapanku dia akan meninggalkan sifatnya yang keras itu apabila dia sudah menjabat sebagai Kholifah”.

Selanjutnya Kholifah Abubakar ra meminta pendapat dari beberapa tokoh Sahabat, baik dari kalangan Muhajirin maupun dari kalangan Anshor, dimana kebanyakan dari mereka mempunyai pendapat yang sama dengan Sayyidina Abdurahman Bin Auf.

Adapun Sayyidina Ali kw, ketika beliau diberi tahu oleh Kholifah Abubakar ra akan rencana tersebut, maka beliau sangat setuju, seraya berucap: “Memang hanya Umar yang layak menjadi Kholifah”.

Saat itu umur Sayyidina Ali kw masih tiga puluh lima tahun dan Sayyidina Abubakar ra sudah enam puluh tiga tahun. Sedang Sayyidina Umar ra saat itu umurnya lima puluh satu tahun.

Namun ada beberapa orang yang kurang setuju dengan rencana Kholifah Abubakar ra tersebut. Mereka mengakui keistimewaan Sayyidina Umar ra yang adil dan sangat cerdas, tapi mereka takut melihat sifat Sayyidina Umar ra yang keras. Sehingga ada dari mereka yang meminta agar rencana tersebut dibatalkan.

Kholifah Abubakar ra agak kesal mendengar permintaan tersebut, sebab beliau merasa telah memilih orang yang terbaik dari mereka.

Karenanya beliau segera berkata: “Demi Alloh, aku telah menunjuk penggantiku orang yang terbaik diantara kalian”.

Malam itu Kholifah Abubakar ra gelisah tidak bisa tidur, beliau memikirkan keadaan Muslimin nantinya setelah beliau meninggal, sehingga badannya semakin lemah dan lemas.

Pagi harinya Sayyidina Abdurahman Bin Auf ra menjenguknya, dan ketika melihat kondisi Kholifah Abubakar ra yang lemas itu, beliau berkata, “Tenanglah, semoga Alloh merahmatimu”, “Sekarang ini ada dua pendapat, tapi saya yakin bahwa kamu telah memilih yang terbaik buat kami”.

Selanjutnya Kholifah Abubakar ra meminta diantar ke Masjid, dan dihadapan orang orang yang ada di Masjid, beliau berkata: “Aku telah berijtihad mengangkat penggantiku, bukan dari keluargaku, tapi aku mengangkat Umar Ibnul Khotthob, patuhi dan ta’atilah dia”. Orang orang pun segera menjawab: “Kami patuh dan ta’at”.

Setelah mendengar jawaban mereka, maka kemudian Kholifah Abubakar ra berdoa, memohon kehadirat Alloh akan keselamatan mereka, “Ya Alloh yang kuinginkan adalah yang terbaik bagi mereka. Aku telah memilih orang yang terbaik dari mereka, dan yang terkuat menghadapi mereka. Dan engkau maha mengetahui”.

Setelah itu Kholifah Abubakar ra memanggil Sayyidina Umar ra dan berkata kepadanya: “Saya minta kamu menjadi penggantiku memimpin para Sahabat Rosululloh SAW. Teruskan perjuangan melawan Persi dan Romawi”.

Selanjutnya beliau masih melanjutkan pesan pesannya dengan membawakan beberapa ayat Al Qur’an.

Setelah Kholifah Abubakar ra selesai menyampaikan pesan pesannya, Sayyidina Umar ra segera pulang kerumahnya. Beliau tidak merasa gembira dengan penunjukan ltu, tapi beliau justru merasa terbebani dengan tugas tersebut.

Namun oleh karena itu merupakan kewajiban yang harus dipikulnya, maka beliau menerima tugas tersebut.

Tidak lama kemudian Kholifah Abubakar ra meninggal dunia dan selaku imam dalam sholat jenazahnya adalah Sayyidina Umar ra yang sudah ditunjuk sebagai Kholifah ke dua.

Beliau Kholifah Abubakar As Shiddiq ra dimakamkan dirumah Siti Aisyah ra, disebelah makam Rosululloh SAW.

Demikian proses penunjukan Sayyidina Umar Ibnu Khotthob ra sebagai Kholifah, serta keterlibatan Sayyidina Ali kw dalam  proses penunjukan tersebut.

   

 

Hubungan Kholifah Umar ra Dengan Sayyidina Ali kw

 

Kholifah Umar Ibnul Khottob ra adalah seorang pemimpin yang tegas tidak ada kompromi dengan kesalahan, disiplin terhadap bawahannya, jujur tidak mementingkan dirinya dan keluarganya. Dermawan suka mendatangi dan membantu orang orang yang tidak punya dan sedang kesusahan. Diwaktu malam beliau suka masuk keluar kampung memeriksa dan mengontrol keadaan rakyatnya.

Itulah Kholifah Umar Ibnul Khottob ra, seorang pemimpin yang sangat disukai dan dicintai oleh Muslimin saat itu.

Dalam memutuskan perkara perkara yang penting, beliau tidak segan segan meminta pendapat dan saran dari tokoh tokoh Sahabat yang memang beliau pandang ahli dalam bidangnya.

Dalam sejarah dikenal bahwa Sayyidina Ali kw termasuk tokoh yang sering dimintai pendapatnya. Sampai sampai Kholifah Umar ra pada suatu hari setelah memutuskan satu perkara, berkata: “Andaikata tidak karena bantuan Ali, niscaya Umar celaka”.

Demikian Kholifah Umar ra, seorang pemimpin yang arif lagi bijaksana serta menghargai jasa orang lain.

Adapun hubungan kekeluargaan dengan Rosululloh SAW, maka beliau adalah mertua Rosululloh SAW, beliau adalah ayah dari Ummul Mukminin Hafshoh ra. Dan guna lebih mendekatkan dirinya dengan Rosululloh SAW, maka beliau menikah dengan Ummu Kaltsum ra putri Sayyidina Ali kw dan Siti Fathimah ra.

Ketika Kholifah Umar ra meninggal Sayyidina Ali kw sangat sedih. Dengan perasaan duka cita yang mendalam dan sambil menangis tersedu sedu beliau berdiri dihadapan jenazah Kholifah Umar ra seraya berkata: ”Hai Abu Hafshoh, sesudah Rosululloh SAW, tidak ada orang yang lebih kucintai dari pada kamu”.

Memang beliau Kholifah Umar ra sangat dicintai oleh para Sahabat, bahkan saat itu ada yang beucap: “Kami menangis ini karena dengan wafatnya Kholifah Umar ra, Islam kehilangan seorang yang tak tergantikan hingga hari kiamat”.

Hampir semua penduduk Madinah merasa sedih dengan kemangkatan Kholifah Umar Ibnul Khottob ra. Saat itu Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Tholib ra berkata: “ Kalau ada satu keluarga yang tidak sedih dengan wafatnya Kholifah Umar ra, berarti mereka itu adalah keluarga yang buruk”. 

 

 

 

Kepedulian Kholifah Umar ra Dan Sayyidah Ummu Kaltsum Binti Ali kw

Terhadap Rakyatnya

 

Kholifah Umar Ibnul Khottob ra dikenal sebagai seorang Kholifah yang sangat memperhatikan keadaan rakyatnya. Beliau tidak hanya menyerahkan kepada bawahannya dalam mengawasi dan memonitor keadaan rakyatnya, namun beliau sendiri sering turun keperkampungan memeriksa keadaan mereka.

Pada suatu malam ketika beliau sedang berjalan memeriksa keadaan rakyatnya, tiba tiba beliau melihat ada satu kemah yang sebelumnya beliau tidak pernah melihatnya.

Ketika beliau mendekat kekemah tersebut, beliau mendengar suara rintihan dari dalam kemah itu. Karenanya kemudian beliau memanggil manggil penghuni kemah tersebut.

Tidak lama kemudian keluarlah dari dalam kemah itu seorang laki laki yang kelihatan dari wajahnya ada sesuatu masalah yang sedang dihadapinya.

Kholifah Umar ra saat itu tidak memperkenalkan dirinya tapi beliau justru bertanya mengenai nama orang tersebut serta daerah asalnya.

Setelah diberi tahu akan nama dan asal daerahnya, maka Kholifah Umar ra kemudian bertanya mengenai suara rintihan yang terdengar dari dalam kemah tersebut.

Orang itupun berkata bahwa istrinya sedang kesakitan karena akan melahirkan.

Kholifah Umar ra kemudian bertanya: “Apakah didalam kemah sudah ada orang perempuan (Bidan) yang membantunya, dan apakah keperluan untuk melahirkan sudah ada ?”.

Orang tersebut menjawab: “Belum ada”.           

Mendengar jawaban tersebut Kholifah Umar ra segera pulang kerumahnya.

Sesampainya dirumah beliau segera membangunkan istrinya, yaitu Sayyidah Ummu Kaltsum ra, putri Sayyidina Ali kw dan Siti Fathimah ra.

Kemudian Kholifah Umar ra menceritakan kepada istrinya bahwa ada satu perempuan asing yang akan melahirkan, sedang dia sendirian tidak ada Bidan yang membantunya serta tidak mempunyai persiapan untuk melahirkan.

Mendengar cerita suaminya itu, Sayyidah Ummu Kaltsum ra segera bangun dan mempersiapkan kebutuhan kebutuhan bagi orang yang akan melahirkan.

Malam itu juga Kholifah Umar ra dan istrinya segera pergi kekemah untuk membantu perempuan tersebut melahirkan. Dan tanpa meminta bantuan orang lain, semua keperluan melahirkan dan lain lain tersebut beliau angkat sendiri.

Setelah sampai dikemah dan bertemu dengan laki laki itu, maka Sayyidah Ummu Kaltsum ra segera masuk kedalam kemah menemui istrinya guna membantunya dalam melahirkan. Sedang Kholifah Umar ra dan laki laki tersebut menunggu diluar kemah.

Tidak lama kemudian Sayyidah Ummu Kaltsum ra keluar dari kemah dan berkata: Yaa Kholifah, Alhamdulillah istrinya sudah melahirkan, ibunya serta anaknya dalam keadaan selamat.

Mendengar Sayyidah Ummu Kaltsum ra menyebut kata “Kholifah”, maka orang laki laki tersebut terkejut dan segera mundur dari tempatnya berdiri. Sebab sebelumnya dia tidak tahu bahwa yang bersamanya adalah Kholifah Umar Ibnul Khottob ra.

Namun Kholifah Umar ra segera menariknya seraya mengucapkan selamat atas lahirnya anak tersebut.

 

Pembaca yang kami hormati.

Dapat kita lihat bagaimana kepedulian kholifah Umar Ibnul Khottob ra terhadap rakyatnya yang sedang membutuhkan bantuan. Dan dapat kita saksikan kepedulian Sayyidah Ummu Kaltsum ra ketika mendengar ada orang yang membutuhkan bantuannya. Beliau tidak mengirim seorang Bidan, tapi beliau sendiri pergi untuk menyelamatkan orang tersebut.

Kejadian diatas merupakan pelajaran bagi kita agar kita juga peduli terhadap orang yang membutuhkan bantuan kita.

Demikian perhatian Kholifah Umar Ibnul Khottob ra terhadap rakyatnya yang membutuhkan bantuan.

 

 

 

Sayyidina Umar ra

Dan Penanggalan Hijriyah

 

Pada suatu hari Kholifah Umar ra sedang bermusyawaroh dengan tokoh tokoh Sahabat, mereka sedang merencanakan untuk membuat Penanggalan sendiri bagi kaum Muslimin. Sebab sampai waktu itu kaum Muslimin masih menggunakan Penanggalan yang dibuat oleh kaum Nasrani dan Yahudi.

Meskipun pembicaraan sudah berjalan beberapa waktu namun mereka belum memutuskan sesuatu. Karena mereka masih mencari batas waktu dimulainya tahun penanggalan.

Tidak lama kemudian masuklah Sayyidina Ali kw keruangan dimana mereka sedang bermusyawaroh, sebab Sayyidina Ali kw termasuk tokoh Sahabat yang diundang.

Melihat Sayyidina Ali kw masuk keruangan, Kholifah Umar ra merasa lega, kemudian beliau menyampaikan maksudnya kepada Sayyidina Ali kw untuk membuat Penanggalan bagi Muslimin, serta mencari waktu dimulainya Penanggalan Islam tersebut.

Mendengar keterangan Kholifah Umar ra tersebut, Sayyidina Ali kw segera memberikan sarannya agar Penanggalan yang direncanakan tersebut dimulai dari hari keluarnya Rosululloh SAW dari rumahnya menuju Madinah atau hijrahnya Rosululloh SAW..

Alangkah gembiranya Kholifah Umar ra ketika mendengar saran tersebut, dan ternyata para Sahabat yang hadir juga menyambut gembira serta dengan senang hati menerima saran tsb.

Selanjutnya setelah saran dari Sayyidina Ali kw itu disetujui oleh Kholifah Umar ra dan semua yang hadir, maka esok harinya hasil musyawaroh tersebut diumumkan dan resmi dipakai.

Sejah hari itu Umat Islam mempunyai Penanggalan tersendiri yang dinamakan “ PENANGGALAN  HIJRIYAH”.

 

 

 

Majlis  Syuro

Wafatnya Kholifah Umar ra.

 

Setiap tahun di negara Syiah Iran diadakan perayaan atas meninggalnya atau Haulnya Baba Syujak atau Abu Lu’lu’ah Al-Majusi. Berbagai acara mereka adakan dalam rangka memeriahkan hari itu. Seorang yang oleh golongan Syiah dianggap sangat berjasa terhadap perjuangan Syiah. Seorang pengecut yang telah menikam dan membunuh Kholifah Umar Ibnul Khottob ra, dengan alasan karena Kholifah Umar ra adalah pemimpin Islam yang telah menaklukkan dan menghancurkan kerajaan Majusi Persi  (Iran).

Sebagaimana kita ketahui bahwa dizaman Kholifah Umar ra telah terjadi Futuuhaat Islamiyyah, saat itu Islam tersebar sampai ke Syam, Irak, Iran dan lain lain. Dimana sebelumnya daerah daerah tersebut dibawah kekuasaan Romawi dan Persia.

Peristiwa kejam tersebut terjadi disaat Kholifah Umar ra sedang sholat subuh. Pada waktu itu Abu Lu’lu’ah yang melihat ada kesempatan untuk melaksanakan niatnya, menyelinap ditengah tengah orang orang yang sedang sholat. Dengan sekejap Abu Lu’lu’ah sudah berada dibelakang Kholifah Umar ra yang sedang mengimami sholat subuh tersebut. Bertubi tubi Abu Lu’lu’ah menancapkan Khon’jarnya kebadan Kholifah Umar ra, sehingga beliau roboh dan tidak sanggup melanjutkan sholatnya. Tapi sebelum pingsan beliau masih sempat meminta Sayyidina Abdurrahman bin Auf ra untuk menggantikan beliau sebagai imam.

Ketika beliau siuman dari pingsannya, yang pertama kali ditanyakan adalah, apakah orang orang sudah selesai sholat. Setelah mendapat jawaban, baru kemudian beliau bertanya siapa yang menikamnya. Dan ketika dijawab bahwa yang menikam adalah Abu Lu’lu’ah Al Majusi, beliau merasa gembira seraya berkata: Alhamdulillah yang membunuhku bukan seorang Muslim.

Tidak cukup menikam Kholifah Umar ra, ketika Abu Lu’lu’ah akan ditangkap, dia masih sempat menikam beberapa orang yang ada didekatnya, sehingga memakan korban beberapa orang. Dan dia sendiri kemudian bunuh diri.

Selanjutnya melihat kondisi Kholifah Umar ra semakin keritis dan tidak ada harapan untuk lebih lama hidup, maka beberapa Sahabat memintanya untuk mengangkat seseorang sebagai penggantinya.

Melihat adanya permintaan permintaan tersebut, beliau mulai berfikir, jika aku menunjuk seseorang sebagai penggantiku, maka orang yang lebih baik dariku (yaitu Sayyidina Abubakar ra) telah berbuat. Dan apabila aku tidak menunjuk seseorang, maka orang yang jauh lebih baik dariku (yaitu Rosululloh SAW) juga telah berbuat.

Akhirnya beliau Kholifah Umar ra membentuk Majlis Syuro untuk memilih Kholifah, yang terdiri dari enam orang Sahabat:

1. Sayyidina  Ali bin Abi Tholib kw

2. Sayyidina  Utsman Ibnu Affan ra. 

3. Sayyidina  Abdurrahman bin Auf ra.

4. Sayyidina  Tholhah bin Ubaidillah ra

5. Sayyidina  Zubair Ibnul Awwam ra

6. Sayyidina  Saad bin Abi Waggos ra.

Itulah enam orang yang ditunjuk oleh Kholifah Umar ra untuk memilih dan dipilih sebagai Kholifah pengganti Kholifah Umar ra. Enam orang Sahabat diatas adalah orang orang yang masih hidup dari sepuluh orang yang diberitakan oleh Rosululloh SAW akan masuk Surga  ( Mubasysyarin  Bil  Jannah ).

Selanjutnya setelah mereka mengadakan pertemuan pertemuan guna bermusyawaroh, serta meminta masukan masukan dari beberapa orang, akhirnya Sayyidina Utsman Ibnu Affan ra yang terpilih sebagai Kholifah ketiga.

Sayyidina Ali kw yang dalam sejarah dikenal sebagai orang yang berjiwa seportif, jujur dan bijaksana, begitu mengetahui bahwa yang terpilih adalah Sayyidina Utsman ra, beliau langsung membaiatnya. Tidak ada rasa sentimen dan unek unek pada dirinya. Beliau terima dengan senang hati semua yang diputuskan oleh Majlis Syuro.

Demikian Majlis Syuro yang dibentuk oleh Kholifah Umar ra, serta wafatnya Kholifah Umar Ibnul Khottob ra.