KHALIFAH ABUBAKAR RA.

Berisi

1. Proses pengangkatan Sayyidina Abubakar ra  sebagai Khalifah

2. Baiat Sayyidina Ali kw kepada Kholifah Abubakar ra.

3. Pidato Kholifah Abubakar ra Setelah Pembaiatan Umum di Masjid Nabawi

4. Letak Makam Rosululloh SAW Atas Petunjuk Sayyidina Abubakar ra

5. Pujian Sayyidina Ali kw Kepada  Sayyidina  Abubakar

6. Keputusan Kholifah Abubakar ra Terhadap  Pembangkang  Zakat.

 

 

Proses pengangkatan Sayyidina Abubakar ra

 sebagai Khalifah

 

  Proses pengangkatan Sayyidina Abubakar ra menjadi Khalifah dilakukan didalam satu musyawarah atau pertemuan di Sagifah Bani Saidah, sebuah Balairung di kota Madinah.

Pertemuan tersebut diadakan oleh orang orang Anshor, dalam rangka memilih seorang Khalifah sebagai pengganti Rasululloh SAW. Hal itu mereka lakukan dikarenakan saat itu orang orang Anshar dan Muslimin lainnya berkeyakinan, bahwa Rasululloh SAW tidak pernah menunjuk seseorang sebagai penggantinya.

Pada awalnya kaum Anshor akan mengangkat seseorang dari mereka, yaitu Saad bin Ubadah untuk menduduki jabatan Khalifah. Namun setelah beberapa tokoh Muhajirin menyusul datang dan ikut bermusyawarah, maka diantara orang-orang Anshor ada yang bersikap agak lunak dan menyarankan agar dari Anshar diangkat seorang Amir dan dari Muhajirin diangkat seorang Amir.

Tapi Alhamdulillah, setelah Sayyidina Abubakar ra berpidato dan menerangkan keutamaan Muhajirin untuk menduduki jabatan Khalifah, maka akhirnya orang orang Anshor menyadari hal tersebut dan menerima saran saran dari Sayyidina Abubakar ra.

Selanjutnya Sayyidina Abubakar ra mengakhiri pidatonya dengan sarannya, agar hadirin mengangkat salah satu dari sesepuh Muhajirin yang hadir di pertemuan tersebut, yaitu Sayyidina Umar ra atau Abu Ubaidah Ibnul Jarroh ra. 

      Mendengar saran yang penuh dengan keikhlasan dari Sayyidina Abubakar ra tersebut, Sayyidina Umar ra langsung menyahut: “Tidak, tidak mungkin saya diangkat sebagai pemimpin satu kaum sedang dalam kaum itu ada engkau”.

Yang dimaksud oleh Sayyidina Umar ra tersebut adalah tidak ada orang yang lebih pantas untuk menduduki jabatan khalifah, melebihi Sayyidina Abubakar ra. Memang keutamaan Sayyidina Abubakar ra bukan rahasia lagi bagi para Sahabat.

Demikian diantara kata kata Sayyidina Umar ra, selanjutnya seraya mengulurkan tangannya beliau berkata kepada Sayyidina Abubakar ra : “Ulurkan tanganmu, untuk aku baiat.”

       Setelah Sayyidina Umar ra membaiat Sayyidina Abubakar ra, hadirinpun segera berebut membaiat Sayyidina Abubakar ra sebagai khalifah.

Besoknya di Masjid Nabawi diadakan pembaiatan umum dan Alhamdulillah berjalan dengan baik dan lancar, dan saat itu tidak ada satu orangpun yang protes atau tidak menyetujui pembaiatan tersebut. Hal mana karena semua sepakat, agar kekosongan pimpinan harus segera diisi. Bahkan pemakaman Nabi terpaksa diundur, karena menunggu terpilihnya Khalifah.

Apabila ada keterlambatan dari dua tiga orang dalam membaiat dikarenakan alasan masing masing, toh akhirnya semua menerima dengan ikhlas pengangkatan Sayyidina Abubakar ra tersebut.

Perlu diketahui bahwa sahnya seorang Khalifah, tidak harus dengan di baiat oleh seratus persen Muslimin, tapi yang penting dibaiat oleh mayoritas Muslimin.

       Hal ini dikuatkan dengan keterangan Sayyidina Ali kw, dimana ketika Sayyidina Ali kw berkirim surat kepada Muawiyah, beliau memberitahukan bahwa pengangkatan beliau sebagai Khalifah ke empat itu sah, karena beliau juga telah di baiat oleh orang orang yang telah membaiat  Sayyidina  Abubakar ra  dan  Sayyidina  Umar ra serta Sayyidina Utsman ra.

       Selanjutnya Sayyidina Ali kw berkata :

Apabila dalam permusyawaratan itu diputuskan mengangkat seseorang, maka Allah akan meridhoinya dan semua yang hadir harus menyetujuinya, sedang bagi yang tidak hadir, tidak boleh menolak. Kemudian bila ada yang membangkang, maka harus diperingatkan dahulu, dan apabila tetap membangkang maka harus di perangi.

       Demikian kata kata Sayyidina Ali kw, dimana diantaranya menunjukkan pengesahannya atas kekhalifahan Sayyidina Abubakar ra dan Sayyidina Umar ra serta Sayyidina Utsman ra. Disamping merupakan pengarahan pengarahan dari beliau kepada kaum Muslimin, dalam menghadapi orang orang yang tidak mengakui atau menolak kekhalifahan Sayyidina Abubakar ra, Sayyidina Umar ra dan Sayyidina Utsman ra.

Surat Sayyidina Ali kw kepada Sahabat Muawiyah tersebut dikirim saat Sayyidina Ali kw diangkat sebagai Khalifah keempat dan surat ini dimuat dalam kitab Nahjul Balaghoh, satu kitab yang sangat diagungkan oleh orang orang Syiah.

Yang perlu digaris bawahi dari permusyawaratan di Sagifah Bani Saidah tersebut adalah, bahwa yang mengadakan pertemuan itu, adalah orang orang Anshor, bukan Sayyidina Abubakar ra atau Sayyidina Umar ra atau orang orang Muhajirin yang lain. Karenanya kita umat Islam wajib, sekali lagi wajib berterima kasih kepada tokoh tokoh Muhajirin, yang begitu mendapat informasi mengenai adanya pertemuan orang orang Anshor di Sagifah Bani Saidah, segera mendatangi pertemuan tersebut. Sehingga perpecahan tidak sampai terjadi. Sebab dapat kita bayangkan, apa yang akan terjadi andaikata orang orang Anshor sampai mengangkat Khalifah sendiri.

       Disamping itu pertemuan di Sagifah tersebut, membuktikan tidak adanya  wasiat  mengenai  penunjukan  atau  pengangkatan pengganti Rasululloh SAW. Sebab apabila ada wasiat dari Rasululloh SAW, pasti dalam permusyawaratan tersebut akan menjadi pokok pembahasan. Tapi kenyataannya tidak ada satu orangpun yang menyampaikan argumentasinya mengenai adanya wasiat pengganti Rasululloh SAW. Memang saat itu ajaran Ibnu Saba’ ( pencetus aliran Syiah ) belum ada, sebab dia belum pura pura masuk Islam.

Sedang argumentasi yang sering dibawa oleh orang orang Syiah sekarang adalah hasil rekayasa ulama ulama Syiah yang mengartikan Hadits Hadits Rasululloh SAW menurut selera mereka, demi untuk menunjang ajaran ajaran mereka.

       Apabila disana sini ada semacam tanda tanda yang diartikan oleh beberapa orang sebagai isyarat untuk menjadi pengganti Rasululloh SAW setelah wafatnya, misalnya: Rasululloh SAW memerintahkan atau menunjuk Sayyidina Abubakar ra untuk menjadi penggantinya dalam mengimami sholat, atau Rasululloh SAW mengangkat Sayyidina Ali kw sebagai pemimpin dalam perang Khaibar, atau Rasululloh SAW mengangkat Ibin Ummi Maktum ra sebagai pemimpin (ad interim) di Madinah, disaat Rasululloh SAW pergi berperang, atau Rasululloh SAW mengangkat orang orang lain sebagai pemimpin (ad interim) juga di Madinah, saat Rasululloh SAW dalam peperangan peperangan yang lain, maka hal tersebut tidak dapat dijadikan sebagai bukti penunjukan atau pengangkatan sebagai pengganti Rasululloh SAW setelah wafatnya.

Perlu kita sadari bahwa masalah Khalifah, adalah masalah yang sangat penting. Karenanya apabila Rasululloh SAW akan menunjuk seseorang untuk menduduki jabatan tersebut, pasti akan dikatakan dengan jelas dan tegas dan tidak dengan samar samar.

         Dalam hal  ini  seorang  cucu Sayyidina  Ali kw  yang  bernama  Hasan Al-Muthanna bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra, ketika ditanyakan kepadanya, apakah Hadits:Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu“. Itu merupakan Nash  pengangkatan Imam Ali kw sebagai Khalifah, bila Rasululloh SAW wafat ?.

         Beliau menjawab :     

         Apabila yang dimaksud oleh Rasulullah SAW itu kekhalifahan sesudahnya, maka beliau akan berkata dengan jelas sebagai berikut:  “ Hai orang orang, ini adalah penggantiku yang akan memimpin kalian sesudahku, maka dengarkanlah dia dan patuhi .

 

 Kemudian lanjut cucu Sayyidina Ali kw tersebut :

  Saya bersumpah demi Allah, andaikata Allah dan Rasul Nya menunjuk dan memilih Ali untuk menduduki jabatan Khalifah tersebut, dan kemudian Ali tidak melaksanakannya, maka beliau adalah orang pertama yang meninggalkan perintah Allah dan Rasul Nya”.

  Ketika penanya bertanya lagi :

 “Tidakkah Rasulullah SAW pernah berkata : “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”?.

        Beliaupun langsung menjawab:

 Demi Allah, apabila yang dimaksud Rasulullah SAW itu mengenai Khalifah, maka beliau akan berkata dengan terang dan jelas, sebagaimana beliau menjelaskan mengenai shalat dan zakat, dan akan berkata : “ Hai orang-orang sesungguhnya Ali adalah pemimpin kalian sesudahku dan dia yang akan meneruskan perjuanganku”.

Itulah jawaban cucu Sayyidina Ali kw mengenai Hadits tersebut dan sekaligus sebagai petunjuk dari beliau mengenai tidak adanya wasiat dari Rasululloh SAW mengenai pengganti beliau.

       Andaikata maksud Hadits tersebut sebagai penunjukan dan pengangkatan Sayyidina Ali kw sebagai Khalifah bila Rasululloh SAW wafat, sebagaimana yang diyakini oleh pengikut Ibin Saba’, maka pasti Hadits tersebut akan menjadi pokok pembahasan dalam pertemuan di Sagifah Bani Saidah. Sedang kenyataannya tidak satu orangpun yang menyebut nyebut Hadits itu. Hal mana karena Hadits tersebut  memang  tidak ada  hubungannya  dengan kekhalifahan, dan faham yang demikian itu sudah menjadi keyakinan kaum Muslimin saat itu, termasuk keyakinan Sayyidina Ali kw dan Ahlul Bait yang lain.

        Bahkan apabila Hadits tersebut, dimaksudkan sebagai penunjukan dan pengangkatan Sayyidina Ali kw sebagai Khalifah bila Rasululloh SAW wafat, maka pertemuan untuk memilih Khalifah di Sagifah Bani Saidah tidak akan terjadi atau tidak sampai diadakan, sebab otomatis begitu Rasululloh SAW wafat, Sayyidina Ali kw langsung menjadi Khalifah, sebab beliau sudah diangkat oleh Rasululloh SAW.

Namun kenyataannya Sayyidina Ali kw tidak pernah menyatakan dirinya sebagai pengganti Rasululloh SAW dan tidak pernah menuntut kekhalifahan dari Sayyidina Abu Bakar ra, dengan membawa argumentasi atau menyebut Hadits tersebut.

Demikian diantara bukti tidak adanya Wasiat dari Rasululloh SAW mengenai ditunjuknya Sayyidina Ali kw sebagai Khalifah bila Rasululloh SAW wafat. Karena apabila ada perintah atau wasiat tersebut pasti sudah dikerjakan oleh Sayyidina Ali kw, apapun akibatnya.

       Apabila ulama ulama Syiah berkata, bahwa Sayyidina Ali kw tidak melaksanakan perintah atau wasiat Rasululloh SAW tersebut karena takut fitnah, maka keyakinan mereka itu justru menambah kesesatan mereka dan dapat menjurus kepada kekufuran.

Sebab kata kata mereka itu bila dijabarkan, berarti Rasulullah SAW menunjuk Sayyidina Ali kw menjadi Khalifah itu untuk membuat fitnah atau agar terjadi fitnah. Karenanya menurut mereka, Sayyidina Ali kw berkeyakinan lebih baik meninggalkan perintah Rasululloh SAW daripada melaksanakan perintah atau wasiat Rasululloh SAW yang dapat membawa fitnah dan malapetaka bagi umat Islam.

Itulah argumentasi ulama ulama Syiah, yang apabila kita amati justru menuduh dan menghina Rasululloh SAW dan Sayyidina Ali kw. Padahal kita umat Islam berkeyakinan, bahwa Rasululloh SAW diutus oleh Allah sebagai Rahmatan Lil Alamin dan tidak untuk membuat fitnah. 

Demikian sedikit mengenai jalannya pertemuan atau permusyawaratan di Sagifah Bani Saidah. Sehingga dapat kita pastikan, bahwa pengangkatan Sayyidina Abubakar sebagai Khalifah tersebut tidak direncanakan terlebih dahulu atau diatur sebelumnya, tapi secara tiba tiba atau dalam istilah Sayyidina Umar disebut Faltah. Dimana asal mulanya orang-orang Anshor merencanakan akan mengangkat seseorang dari mereka sebagai Khalifah, tapi Allah menghendaki Sayyidina Abubakar ra yang menjadi Khalifah, sehingga secara tiba tiba hadirin membaiat Sayyidina Abubakar ra sebagai Khalifah dan selamatlah Muslimin dari perpecahan.

 

 

 

Baiat Sayyidina Ali kw

kepada Kholifah Abubakar ra.

 

Semua ahli sejarah sepakat bahwa Sayyidina Ali kw tidak hadir dalam pertemuan yang diadakan oleh orang orang Anshor di Sagifah Bani Saidah (Sebuah Balairung dikota Madinah). Dimana dalam permusyawaratan tersebut akhirnya diputuskan mengangkat Sayyidina Abubakar ra sebagai Kholifah atau kepala negara menggantikan Rosululloh SAW.

Beliau Sayyidina Ali kw saat itu bersama keluarga Rosululloh SAW yang lain sedang sibuk mengurus apa apa yang harus dipersiapkan guna pemakaman baginda Rosululloh SAW. Sedang para Sahabat yang lain berada di Masjid yang bersebelahan dengan rumah atau kamar Siti Aisyah ra.

 

Pembaiatan umum terhadap Kholifah Abubakar ra dilakukan dua kali, yang pertama hari Senin terjadi di Sagifah Bani Saidah, yang dihadiri oleh orang orang Anshor dan beberapa tokoh Muhajirin dan yang kedua diadakan pembaiatan umum di Masjid Nabawi.

Hampir semua Sahabat yang berada dikota Madinah saat itu membaiat Sayyidina Abubakar ra sebagai Kholifah. Termasuk Sayyidina Ali kw, begitu beliau mendengar bahwa dimasjid sedang diadakan pembaiatan umum terhadap Sayyidina Abubakar ra, beliau Sayyidina Ali kw segera datang bersama sepupunya Sayyidina Zubair Ibnul Awwam ra dan ikut membaiat Sayyidina Abubakar ra sebagai Kholifah.

 

Proses pertemuan di Sagifah Bani Saidah.

Senin pagi 12 Robiul Awwal baginda Rosululloh SAW wafat dirumah (kamar) istri tercintanya Ummul Mukminin Aisyah ra. Pagi itu juga semua Sahabat yang berada dikota Madinah segera datang berta’ziah. Mereka sangat terkejut dengan berita wafatnya Rosululloh SAW tersebut. Begitu pula para Sahabat yang berada diluar kota Madinah, mereka cepat cepat datang ke Madinah untuk ikut bersama sama dengan yang lain berta’ziah atas wafatnya pemimpin mereka.

Orang orang Anshor setelah mereka berta’ziah, kemudian mereka berkumpul di Sagifah Bani Saidah, dengan tujuan akan mengangkat pemimpin mereka Sa’ad bin Ubadah sebagai Kholifah pengganti Rosululloh SAW. Karenanya meskipun saat itu Sa’ad bin Ubadah dalam keadaan sakit, tapi dia tetap dihadirkan dalam pertemuan itu..

Mungkin ada yang bertanya: Mengapa orang orang Anshor saat itu cepat cepat akan mengangkat Sa’ad bin Ubadah sebagai Kholifah?

Hal mana karena Rosululloh SAW semasa hidupnya tidak pernah menunjuk seseorang sebagai Kholifah penggantinya apabila beliau wafat. Karenanya agar tidak didahului oleh orang orang Muhajirin, mereka orang orang Anshor cepat cepat berkumpul, bermusyawaroh, dengan tujuan akan mengangkat pemimpin Anshor (Sa’ad bin Ubadah) sebagai Kholifah pengganti Rosululloh SAW.

Namun meskipun orang orang Anshor cepat cepat bermusyawaroh untuk mengangkat Sa’ad bin Ubadah sebagai Kholifah, tapi Alloh SWT menghendaki Sayyidina Abubakar ra yang menjadi Kholifah pengganti Rosululloh SAW.

Semua berjalan sesuai dengan kehendak Alloh SWT, dimana Sayyidina Abubakar ra yang saat itu sedang berada ditempat putrinya Siti Aisyah ra, tiba tiba ditakdirkan oleh Alloh untuk datang dan hadir bersama Sayyidina Umar ra dan Abu Ubaidah ra ditempat pertemuan orang orang Anshor.

Beliau diberitahu oleh Sayyidina Umar ra bahwa orang orang Anshor sedang berkumpul di Sagifah Bani Saidah untuk mengangkat Saad bin Ubadah sebagai Kholifah. Dan demi menyelamatkan Muslimin dari perpecahan, maka Sayyidina Umar ra meminta Sayyidina Abubakar ra untuk ikut hadir dipertemuan tersebut.

Sebagai orang yang dituakan dikalangan Sahabat, maka Sayyidina Abubakar ra menerima ajakan tersebut dan cepat cepat menuju Sagifah Bani Saidah.

Sesampainya di Sagifah Bani Saidah Sayyidina Abubakar ra dengan persetujuan Sayyidina Umar ra segera berpidato, dimana beliau menerangkan mengenai keutamaan kaum Anshor serta kelayakan Muhajirin untuk menduduki jabatan Kholifah.

Dan karena memang sudah dikehendaki oleh Alloh, maka akhirnya semua yang hadir menerima apa apa yang disampaikan oleh Sayyidina Abubakar ra. Sehingga akhirnya semua yang hadir baik orang orang Muhajirin maupun orang orang Anshor yang semula akan mengangkat Sa’ad bin Ubadah sebagai Kholifah berbalik membaiat Sayyidina Abubakar ra sebagai Kholifah. Sehingga selamatlah Muslimin dari perpecahan.

Sebab dapat kita bayangkan apa yang akan terjadi apabila orang orang Anshor sampai mengangkat pemimpin Anshor sebagai Kholifah dan kemudian orang orang Muhajirin juga mengangkat pemimpin mereka sebagai Kholifah. 

Namun kesepakatan dan bersatunya Muslimin ini tidak dikehendaki oleh lawan lawan atau musuh musuh Islam, karenanya dikemudian hari mereka (orang orang Syiah) membuat isue isue yang mereka harapkan dapat merusak persatuan Umat Islam.

Misalnya dengan memutar balik Hadits Hadits Rosulillah SAW serta menafsirkan ayat ayat Al-Qur’an sesuai dengan selera mereka demi menunjang ajaran mereka.

Adapun mengenai Baiatnya Sayyidina Ali kw kepada Kholifah Abubakar ra, maka dalam kitab kitab sejarah yang ditulis oleh ulama ulama Islam (bukan ulama ulama Syiah) ada dua fersi, yang pertama dan yang kuat adalah Sayyidina Ali kw membaiat Kholifah Abubakar ra pada hari dimana diadakan pembaiatan umum di Masjid Nabawi, sebelum Rosululloh SAW dimakamkan. Beliau datang ke Masjid Nabawi bersama Zubair Ibnul Awwam ra.

 Namun sebelum beliau membaiat Sayyidina Abubakar ra sebagai Kholifah, Sayyidina Ali kw sempat menegor Sayyidina Abubakar ra mengenai tidak diundangnya beliau dalam pertemuan di Sagifah tersebut. Sebab beliau merasa berhak untuk diajak bermusyawaroh, mengingat dekatnya beliau dengan kekeluargaan Rosululloh SAW.

Dengan demikian beliau Sayyidina Ali kw tidak memprotes diangkatnya Sayyidina Abubakar ra sebagai Kholifah, tapi beliau memprotes kok tidak diajak bermusyawaroh.

Tapi setelah beliau diberi tahu bahwa pertemuan tersebut diadakan oleh orang orang Anshor dan pengangkatan Sayyidina Abubakar ra sebagai Kholifah itu secara tiba tiba, maka Sayyidina Ali kw segera membaiat Kholifah Abubakar ra.

 (Ansaabul Asyrof – 2 / 263  oleh Al Baladhiri, Tarikhul Khulafa’-hal.56, oleh Assuyuty, Al Mustadrok – 3 / 66 ,Al Hakim).

Yang kedua Sayyidina Ali kw membaiat Kholifah Abubakar ra setelah enam bulan, tapi riwayat ini lemah dan bertentangan dengan keadaan Sayyidina Ali kw yang ternyata setelah Rosululloh SAW wafat beliau tetap Sholat di Masjid Nabawi dibelakang Kholifah Abubakar ra. Bahkan beliau sering memberikan saran kepada Kholifah Abubakar ra, terutama dalam mengahadapi orang orang yang Murtad dan orang orang yang tidak mau membayar atau mengeluarkan Zakat.

Disamping itu Sayyidina Ali kw ikut memimpin peperangan melawan orang orang yang tidak mau membayar Zakat kepada Kholifah Abubakar tersebut. Memang Sayyidina Ali kw orangnya tidak ambisi untuk jadi Kholifah, terbukti ketika beliau pertama kali diminta untuk jadi Kholifah menggantikan Kholifah Utsman ra, beliau justru menolak dan memerintahkan para Sahabat mencari yang lain, dan beliau hanya mau menjadi wazir saja. Baru setelah dipaksa, beliau menerima permintaan tersebut.

Namun baik versi yang pertama maupun yang kedua toh akhirnya Sayyidina Ali kw membaiat Kholifah Abubakar ra. Bahkan Sayyidina Ali kw pernah berkata:

Bagaimana kita tidak menerimanya sebagai pemimpin urusan dunia kita (Khilafah), sedang kita sudah menerimanya sebagai pemimpin urusan agama kita (sebagai Imam Sholat yang ditunjuk oleh Rosululloh SAW).

Demikian sedikit mengenai baiatnya Sayyidina Ali kw kepada Kholifah Abubakar ra.

 

 

 

 

Pidato Kholifah Abubakar ra

Setelah Pembaiatan Umum di Masjid Nabawi

 

Setelah para Sahabat yang ada di Madinah baiat kepada Sayyidina Abubakar ra, termasuk Sayyidina Ali bin Abi Tholib kw, maka kemudian Kholifah Abubakar ra berpidato.

Dalam pidatonya itu setelah beliau mengucap syukur kepada Alloh SWT, maka Kholifah Abubakar ra berkata:

أما بعد، أيها الناس، قد ولّيت عليكم ولست بخيركم. فان أحسنت فأعينوني, وان أسأت فقوموني. الصّدق أمانة، والكذب خيانة. والضّعيف فيكم قويّ عندي حتّى أريح عليه حقّه ان شاء الله، والقويّ فيكم ضعيف عندي حتّى أخذ الحق منه ان شاء الله. لا يدع قوم الجهاد في سبيل الله الاّ ضربهم الله بالضّلّ، ولا تشيع الفاحشة في قوم الاّ عمّهم الله بالبلاء، أطيعوني ما أطعت الله ورسوله. فان عصيت الله ورسوله فلا طاعة لي عليكم. قوموا الى صلاتكم يرحمكم الله.                   (السيرة النبوية لابن هشام)     

 

“Amma ba’du: Saudara saudara, saya sudah terpilih untuk memimpin kalian, dan saya bukanlah orang yang terbaik diantara kalian. Apabila saya berlaku baik, maka bantulah saya, dan kalau saya salah maka luruskan. Kebenaran atau kejujuran adalah suatu kepercayaan dan Dusta adalah penghianatan. Orang yang lemah dikalangan kalian adalah kuat dimata saya, sesudah haknya nanti saya berikan kepadanya dengan ijin Alloh. Dan orang yang merasa kuat, buat saya lemah sesudah haknya nanti saya ambil dengan ijin Alloh. Apabila ada golongan yang meninggalkan perjuangan dijalan Alloh (Jihad), maka Alloh akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Apabila kejahatan sudah meluas pada suatu golongan, maka Alloh akan menyebarkan bencana pada mereka. Taatilah saya selama saya taat kepada Alloh dan Rosul-Nya. Tetapi apabila saya melanggar perintah Alloh dan Rosul-Nya maka janganlah kalian patuh kepada saya.

Ayo bangun untuk melaksanakan sholat, semoga Alloh memberi rahmat kepada kalian”.(Siroh Nabawiyyah, Ibnu Hisyam)

Demikian pidato Kholifah Abubakar ra yang memukau para Sahabat karena disampaikan dengan penuh tawadhuk dan rendah hati.

 

 

Letak Makam Rosululloh SAW

Atas Petunjuk Sayyidina Abubakar ra

Subuh Senin 12 Robiul Awal tahun sebelas Hijriyah, Sayyidina Abubakar ra seperti biasa atas perintah Roululloh SAW mengimami sholat subuh di Masjid Nabawi.

Setelah selesai sholat subuh dan kemudian sholat Isyroq, maka kemudian beliau pulang kerumahnya yang berada dipinggir kota Madinah.

Selanjutnya ketika berita wafatnya Rosululloh SAW sampai kepada beliau, maka beliau segera cepat cepat mendatangi rumah anaknya Siti Aisyah ra, dimana Rosululloh SAW sudah beberapa hari tinggal di rumah istri tercintanya. 

Kemudian setelah sampai dihadapan Rosululloh SAW, Sayyidina Abubakar ra segera membuka kain penutup wajah Rosululloh kemudian menciumi Rosululloh SAW seraya berkata “Bi Abi Anta Wa Ummi, alangkah harumnya baumu Ya Rosululloh, baik saat kau masih hidup maupun sudah meninggal”.

Selanjutnya ketika beliau mendengar ada suara gaduh di Masjid, karena Sayyidina Umar ra marah marah dan akan memukul dengan pedang orang yang mengatakan Rosululloh SAW sudah wafat, maka Sayyidina Abubakar ra segera berpidato dan mengatakan, barang siapa menyembah Muhammad SAW maka Muhammad SAW telah meninggal, dan barang siapa menyembah Alloh, maka Alloh hidup dan tidak akan mati (kekal).

Beliau kemudian membaca ayat yang berbunyi:

و َمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىَ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللّهَ شَيْئاً وَسَيَجْزِي اللّهُ الشَّاكِرِينَ.      (أل عمران : 144)

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik kebelakang, maka ia tidak dapat mendatangkan madharrat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

                                                                     (Al Imran : 144)

Saat itu sebagian Sahabat termasuk Sayyidina Umar ra seakan akan tidak pernah mendengar ayat ini, karenanya suasananya kemudian menjadi hening.

Selanjutnya ketika para Sahabat berbeda pendapat mengenai tempat dimakamkannya Rosululloh SAW, dimana ada yang mengusulkan agar dimakamkan di pemakaman Baqi’, dan ada yang mengusulkan di Mekah dan ada yang mengusulkan didalam Masjid Nabawi, maka Sayyidina Abubakar ra segera berkata, saya pernah mendengar Rosululloh SAW bersabda:

ما مات نبيّ قط الاّ يدفن حيث تقبض روحه

 (الطبقات الكبرى، لابن سعد)

Tidaklah meninggal satu Nabi terkecuali dimakamkan ditempat dimana dia dicabut ruhnya.

Kemudian Sayyidina Ali Bin Abi Tholib kw menguatkan keterangan Sayyidina Abubakar ra dan berkata: “Saya juga pernah mendengarnya dari Rosululloh SAW”.

Itulah sebabnya mengapa Rosululloh SAW dimakamkan dikamar Siti Aisyah ra.

 

 

 

 

Pujian Sayyidina Ali kw Kepada  Sayyidina  Abubakar ra.

Hubungan Sayyidina Ali kw dengan Sayyidina Abubakar ra sangat dekat, mereka saling hormat menghormati dan saling mencintai. Maklum mereka adalah anak didik Rosululloh SAW.

Disaat Sayyidina Abubakar ra dibaiat oleh para Sahabat sebagai Kholifah, maka Sayyidina Ali kw termasuk Sahabat yang membaiatnya.

Dalam kitab Tarikh Thobari juz tiga halaman 207 diceritakan;  Ketika Sayyidina Ali kw sedang berada dirumahnya, tiba tiba datang seorang dan memberi tahukan bahwa Sayyidina Abubakar ra sudah duduk dimasjid untuk dibaiat oleh para Sahabat.

Mendengar keterangan tersebut Sayyidina Ali kw cepat cepat ke Masjid, bahkan karena tergesa gesanya, beliau hanya pakai gamis tanpa rodi atau surban. Hal mana karena takut terlambat dan langsung membaiat Sayyidina Abubakar ra sebagai Kholifah.

Setelah selesai membaiat Sayyidina Abubakar ra beliau langsung duduk menyaksikan para Sahabat membaiat Kholifah Abubakar ra. Saat itu umur Sayyidina Ali kw masih tiga puluh tiga tahun, sedang Sayyidina Abubakar sudah diatas enam puluh tahun.

Kemudian Sayyidina Ali kw memerintahkan seseorang untuk mengambilkan ridaknya yang ketinggalan dirumahnya dan setelah datang dipakainya ridak tersebut diatas gamisnya.

Dalam kitab Mustadrok diceritakan:  Muhammad bin Agil bin Abi Tholib berkata: Pada suatu hari Amirul Mukminin Ali kw berpidato sebagai berikut:

Hai orang orang, siapa orang yang paling berani ?.

Maka kami menjawab:   Kamu wahai Amirul Mukminin.

Maka beliau berkata:  Dia adalah Abubakar Assiddiq. Ketika perang Badar, kami mengadakan penjagaan bagi Rosululloh SAW. Saat itu kami berkata: Siapa yang akan menjaga Rosululloh SAW dari musuh ?. Langsung Sayyidina Abubakar ra menghunus pedangnya untuk menjaga Rosululloh SAW.

Begitu pula disaat Rosululloh SAW sedang berada di Ka’bah, tiba tiba beliau dikerumuni dan diganggu serta disakiti oleh Kuffar Quraisy, dimana mereka berkata:  “Kamu yang menjadikan Tuhan Tuhan kita menjadi Tuhan yang satu ?”.

Demi Alloh saat itu tidak ada seorangpun yang membelanya terkecuali Abubakar. Beliau membelanya sambil mendorong sana mendorong sini sambil berkata: “Celaka kalian, apakah kalian akan membunuh seorang yang mengatakan, Tuhanku adalah Alloh dan telah membawakan kepada kalian bukti bukti dari Tuhan kalian”.

Kemudian Sayyidina Ali kw meneruskan pidatonya dan berkata: “Saya bertanya kepada kalian: Mana yang lebih baik, Mukmin Ala Fir’aun apa Abubakar ?”.

Maka yang hadir terdiam, tidak ada seorangpun menjawab.

Selanjutnya Sayyidina Ali kw berkata: Demi Alloh satu harinya Abubakar lebih baik dari pada Mukmin Ala Fir’aun. Dia itu orang yang menyembunyikan imannya dan kemudian Alloh memujinya, sedang Abubakar telah mengorbankan jiwa dan raganya karena Alloh.

Demikian diantara pujian pujian Sayyidina Ali kw kepada Sayyidina Abubakar ra.

Disaat Siti Fathimah ra wafat, tidak lama kemudian Sayyidina Abubakar ra, Sayyidina Utsman ra, Abdurrahman bin Auf ra dan Sahabat Sahabat yang lain berta’ziah kepada Sayyidina Ali kw.

Kemudian disaat Siti Fathimah ra akan disholati, maka Sayyidina Ali kw berkata kepada Kholifah Abubakar ra:

Majulah Ya Ababakar.

Kholifah Abubakar ra menjawab: Apa tidak kamu saja.

Maka Sayyidina Ali kw berkata: Tidak ada yang layak menjadi Imam terkecuali kamu.

Akhirnya atas permintaan Sayyidina Ali kw tersebut, Kholifah Abubakar ra maju menjadi imam.

Tapi dalam Kitab Muslim diceritakan, bahwa yang menjadi imam adalah Sayyidina Ali kw. Hal itu mungkin terjadi, karena beliau Siti Fathimah ra disholati beberapa kali.

Demikian pujian pujian dan penghormatan Sayyidina Ali kw kepada Sayyidina Abubakar ra.

 

 

 

 

Keputusan Kholifah Abubakar ra 

Terhadap  Pembangkang  Zakat.

 

Meninggalnya Rosululloh SAW telah membuat orang orang didaerah daerah di luar Madinah merasa bebas berbuat apa saja. Sehingga ada yang merasa bebas dan tidak lagi berkewajiban membayar Zakat. Juga ada yang mengaku Nabi baru, sehingga banyak warga didaerah tersebut menjadi Murtad.

Kejadian ini semua menjadi beban bagi pemerintah yang dipimpin oleh Kholifah Abubakar ra. Sehingga beliau dituntut untuk mengambil satu keputusan yang tepat dan tegas dalam menghadapi masalah tersebut.

Dalam menghadapi orang orang yang mengaku sebagai Nabi Baru, Kholifah Abubakar ra tidak ada kendala. Sebab semua Sahabat sepakat bahwa Nabi Nabi palsu tersebut harus diperangi. Tapi dalam menghadapi orang orang yang tidak mau membayar Zakat, ada dua pendapat. Yang pertama Kholifah Abubakar ra bersikeras agar orang orang tersebut diperangi. Pendapat ini didukung oleh Sayyidina Ali kw dan beberapa Sahabat. Pendapat kedua berharap agar mereka disikapi dengan agak lunak, artinya tidak harus diperangi. Pendapat ini didukung oleh Sayyidina Umar ra dan beberapa Sahabat. Alasan mereka karena orang orang tersebut sudah membaca Syahadat, dan orang yang sudah mengikrarkan Syahadat harus dijamin keselamatan jiwanya.

Adapun alasan Sayyidina Ali kw dan Kholifah Abubakar ra, karena perbuatan tersebut berarti melanggar Sunnah Rosululloh SAW, sama seperti meninggalkan kewajiban Sholat. Karenanya pembangkangan terhadap kewajiban menunaikan Zakat berarti menumbangkan salah satu tiang agama. Dan bagi pembangkang Zakat Sholatnya tidak ada gunanya.

Oleh karena itu Kholifah Abubakar ra dan Sayyidina Ali kw sependapat bahwa Syahadat mempunyai konsekwensi yang wajib dipenuhi dan ditunaikan, yaitu wajib Sholat, wajib Zakat, wajib Puasa Romadhon dan wajib Haji bagi yang mampu..

Akhirnya dengan penjelasan Kholifah Abubakar ra tersebut, para Sahabat sepakat bahwa pembangkang Zakat harus diperangi