بسم الله الرحمن الرحيم

 

RAGAM  SYIAH

 

 

Dalam rangka menambah wawasan kita mengenai ragam Syiah, maka dalam kesempatan ini kami Redaksi Ash-Showaaiq menyajikan kepada pembaca soal jawab kami dengan Habib Achmad Zein Alkaf (AZA) Ketua Bidang Organisasi Yayasan  Albayyinat.

                                                                                    REDAKSI

Soal   : Apa saja ragam Syiah ?.

AZA : Berbicara mengenai aliran Syiah atau Madzhab Syiah dan macam ragamnya, maka perlu diketahui bahwa Madzhab Madzhab Syiah itu mempunyai nama dan ada bermacam macam namanya.

Karenanya apabila kita membahas atau mengkaji aliran Syiah atau Madzhab Syiah, maka harus jelas nama aliran yang sedang kita bahas. Sebab setiap Madzhab Syiah mempunyai keyakinan yang berbeda beda.

Nama nama Syiah tersebut bermunculan diabad ketiga. Sedang sebelumnya mereka hanya dikenal dengan sifat mereka dan julukan mereka, seperti Ghula, Rofidhoh atau dinisbatkan kepemimpinnya seperti Saba’iyyah atau dinisbatkan ke tokoh yang di klaim sebagai Imamnya atau  pemimpinnya.

Disebut Ghulu atau Ghula atau Ghulat karena mereka mempunyai sifat yang berlebihan dalam aqidahnya dan berlebihan dalam cintanya kepada Sayyidina Ali kw, bahkan ada yang menganggap Sayyidina Ali kw sebagai Tuhan. Itulah sebabnya oleh Sayyidina Ali kw mereka sampai dibunuh (dibakar), dan Abdulah bin Saba’ diusir ke Madain Persia. Mereka itulah yang dikenal dengan ”Muhibbun Ghollin” Pecinta yang berlebihan.

Rosululloh SAW pernah bersabda:

           قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  يا علي يهلك فيك اثنان محب غال ومبغض

Wahai Ali, celaka dua golongan yang sikapnya terhadapmu, sebagai pecinta yang berlebihan (kelewat) dan pembenci.

Sedang Sayyidina Ali pernah berkata:

وقال سيدنا علي بن أبي طالب كرم الله وجهه:  يهلك فينا اثنان محب غالٍ ومبغض قالٍ.

“Celaka dua golongan yang sikapnya terhadap kami, sebagai pecinta yang berlebihan (kelewat) dan pembenci yang mengumpat”.

Dari sifat mereka yang berlebihan tersebut maka mereka disebut Ghulu atau Ghula atau Ghulat.

Adapun Rofidhoh adalah julukan (Nabzon) dari Rosululloh bagi orang orang yang memusuhi dan membenci Sayyidina Abubakar ra dan Sayyidina Umar ra.

Rasulullah SAW pernah bersabda :

 

سَيَأتِىْ مِنْ بَعْدِى قَوْمٌ لَهُمْ نَبْزٌ يُقَاُل الرَّافِضَةْ، فَاِذَا أَدْرَكْتَهُمْ فَاقْتُلْهُمْ فَاِنَّهُمْ مُشْرِكُوْنْ. 

(رواه الامام احمد والدار قطنى)

Akan muncul sesudah aku tiada, satu golongan yang mendapat julukan Rofidhoh. Jika kamu mendapatkan mereka, maka bunuhlah (perangilah) mereka. Sebab mereka itu orang orang musyrik.

 

Mendengar keterangan Rasululloh SAW tersebut, Sayyidina Ali kw segera bertanya kepada Rasululloh SAW mengenai tanda tandanya orang Rofidhoh tersebut.

Rasulullah SAW menjawab :

 

يَنْتَحِلُوْنَ حُبّ أَهْل البَيْتْ وَلَيْسُوا كَذَلِكْ، وَأيَةُ ذَلِكْ أَنَّهُمْ يَسُبُّوْنَ اَبَابَكَرْ وَعُمَرْ  (الدار قطنى)

Mereka itu seakan akan mencintai Ahlul Bait, padahal mereka itu tidak demikian. Sedang tanda tandanya, mereka itu suka mencaci maki Abu Bakar dan Umar.        (Ad-dhar Gutni)

 

Namun saat ini Madzhab Syiah yang bermacam macam namanya itu tinggal beberapa saja yang masih berkembang, yaitu:

1. Madzhab Syiah Zaidiyyah yang berpusat di Yaman utara. Mereka kemudian berkembang, ada yang namanya Batariyyah, Sulaimaniyyah dan Jarudiyyah. Tapi sekarang karena pengaruh Iran, sebagian dari mereka sudah beralih ke Syiah Imamiyyah Itsna’asyariyyah. Mereka inilah yang tempo hari memberontak di Yaman.

2. Syiah Ismailiyyah, berkembang di India dan Pakistan dengan sebutan Buhroh. Di Indonesia (Surabaya) ada beberapa orang India yang masih mengikuti Madzhab ini. Mereka hanya berkembang diantara keluarga mereka sendiri.

Disamping Syiah Buhroh, saat ini di Syria dan sekitarnya masih ada kelompok kelompok kecil pecahan dari Ismailiyyah, seperti Nushoiriyyah, Druz dll. Namun mereka sekarang sudah mulai tergeser dengan berkembangnya aliran Syiah Imamiyyah Itsna’asyariyyah yang di export oleh Khumaini ke daerah mereka. Dulu Mesir pernah dikuasai oleh pemerintahan Fathimiyyah, mereka juga pecahan dari Ismailiyah.

 

3. Syiah Imamiyyah Itsna’asyariyyah berpusat di Iran. Oleh Khumaini aliran ini di export keseluruh dunia Islam. Syiah inilah yang sekarang berkembang di Indonesia, dengan menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait atau Madzhab Ja’fariyyah. Diantara tokoh mereka Hasan Dzalil, Jalaluddin Rahmat, Umar Syahab, Utsman Umar Syihab dll. Dengan dana yang besar dari Iran, mereka mendekati dan memberangus tokoh tokoh kita dan ditamasyakan ke Iran untuk dicuci otaknya.

Saat ini Syiah inilah yang paling sesat dan paling berbahaya diantara Syiah Syiah yang ada. Perbedaan kita Ahlussunnah dengan mereka disamping dalam Furu’ juga dalam Ushul. Rukun Islam mereka berbeda dengan Rukun Islam kita Ahlussunnah, juga Rukun Iman mereka berbeda dengan Rukun Iman kita. Dan mereka mendudukkan Imam Imam mereka diatas para Rosul.

Mereka juga berkeyakinan bahwa Al-Qur’an yang kita baca sekarang ini sudah Muharrof atau tidak asli, artinya sudah dirubah oleh para Sahabat. Keyakinan yang demikian itu membuat mereka keluar dari Islam, sebab telah menolak Kalamulloh, dimana Alloh telah berfirman: “Kamilah yang telah menurunkan Alqur’an dan Kami yang menjaganya”. Disamping itu masih banyak lagi keyakinan keyakinan mereka yang membuat para Ulama menghukum mereka Kafir.

Kemudian karena mereka juga berkeyakinan dengan adanya “Roj’ah“, maka mereka oleh para ulama juga disebut Ghula.

Selanjutnya karena kebencian mereka kepada Sayyidina Abubakar ra dan Sayyidina Umar ra, maka mereka juga disebut Rofidhoh.   ( Baca buku “Export Revolusi Syiah Ke Indonesia” )

 

Soal :  Bagaimana sikap Salafunassholeh tehadap Madzhab Madzhab Syiah tersebut?.       

AZA: Semua Madzhab Syiah tersebut diatas telah ditolak oleh para Salafunassholih. Bahkan Madzhab Syiah yang paling dekat dengan Ahlussunnah yaitu Syiah Zaidiyyah yang saat itu perbedaannya dengan Ahlussunnah hanya didalam masalah Afdholiyyah, dimana mereka mengafdholkan Sayyidina Ali kw dari pada Sayyidina Abubakar ra dan Sayyidina Umar, telah ditolak oleh Al Allamah Al Habib Abdulloh Bin Alwi Al Haddad. Saat itu beliau menyusun “Rotib Haddad” guna membentengi ummat islam dari faham Syiah yang menyesatkan tersebut.

 

Soal   :  Bagaimana pendapat antum dengan pendapat yang mengatakan bahwa sekarang ada Syiah yang Mu’tadilah (Moderat) ?.

AZA : Sejak dahulu sampai sekarang umur saya lebih dari tujuh puluh tahun, belum pernah saya mendengar atau membaca ada Madzhab Syiah yang namanya Mu’tadilah. Dan baru sekarang ada orang yang berpendapat ada Syiah yang Mu’tadilah.

Astahfirulloh, Madzhab Syiah kok dikatakan Mu’tadilah. Mecaci maki para Sahabat dan istri Rosululloh kok diberi nama Mu’tadilah. Entah apa tujuan pemberian nama yang demikian itu. Apa dibelakang itu Wallahu A’lam. Dan saya yakin orang orang Syiah di Indonesia pasti gembira mendapat (diberi) tempat yang demikian itu. Dan itu membuktikan kepandaian tokoh tokoh Syiah mendekati tokoh tokoh kita.

Tapi kami tidak terpengaruh dengan pendapat yang demikian itu, sebab kami hanya berpegangan dengan Al-Qur’an dan Hadits Rosulillah SAW. Semua ajaran yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits, maka ajaran tersebut sesat dan menyesatkan.

Perlu diketahui bahwa sekarang ini terutama di Indonesia tidak ada orang Syiah yang tidak mencaci maki Sahabat. Sebab kalau kita orang Islam mendekatkan diri kepada Alloh dengan memperbanyak Sholat dan Puasa serta ibadah yang lain, maka orang orang Syiah itu mendekatkan dirinya kepada Alloh dengan membenci para Sahabat dan membenci orang orang yang mencintai para Sahabat. Serta melaknat para Sahabat dan melaknat orang orang yang mencintai para Sahabat. Jadi tidak ada orang Syiah yang tidak mencaci maki para Sahabat.

 

Seorang ulama Syiah Muhammad bin Muhammad bin Nukman yang dikenal dengan Al Mufid dalam bukunya "Awail Al Magoolat" halaman 39 mengatakan: 

يَقُولُ شَيْخُ الشِّيْعَة وَعَاِلُمَها فِى زَمَنِهِ المُفِيدْ: بِأَنَّ لَفْظ الشِّيْعَة يُطْلَقُ عَلَى أَتْبَاع اَمِيرُ المؤمنين عَلَى سَبِيْلِ الوَلاَء وَالاِعْتِقَاد لاِمَامَتِهِ بَعْدَ الرَّسُول صلوات الله عليه واله بِلاَ فَصْل، وَنَفْيُ الاِمَامَة عَمَّنْ تَقَدَّمَهُ فِى مَقَامِ الخِلاَفَة.                                                                                                         (أوائل المقالات ص 39)

 

Bahwa kata Syiah itu sepesifik pengikut Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib), yang membelanya serta sumpah setia kepadanya, begitu pula percaya serta beri'tiqat terhadap keimamahannya sesudah Rosululloh, tanpa suatu pembatas (artinya langsung setelah Rosululloh) dan menolak kepemimpinan (keimamahan) siapa saja yang menjadi Kholifah sebelumnya (yaitu Abubakar, Umar dan Utsman).

 

Dengan demikian yang dimaksud dengan orang orang Syiah adalah orang orang yang menolak dan tidak mengakui kekhalifahan Sayyidina Abubakar, Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman ra.

 

Perlu difahami bahwa sesatnya Syiah itu bukan hanya karena mereka mencaci maki para Sahabat saja, tapi banyak hal yang membuat mereka keluar dari Islam. Sebagaimana yang kami sebutkan diatas. (atau baca kitab:” Export Revolusi Syiah Ke Indonesia”)

Memang saat ini ada orang orang tertentu yang karena keterbatasan ilmunya dalam masalah Syiah, mereka hanya mengetahui bahwa Syiah itu sesat, tapi sampai dimana kesesatannya, mereka tidak tahu, apakah Syiah itu masih Islam, apa sudah keluar dari Islam. Karenanya disaat para ulama mengkafirkan Syiah, mereka hanya menonton dan tidak berani berbicara.

Perlu difahami bahwa dalam masalah Syiah, tidak ada istilah “ajak mengajak” untuk mengkafirkan Syiah. Tapi semua ajaran yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits, maka ajaran tersebut keluar dari Islam, Kafir.

Karenanya hati hati kalau berpendapat, sebab anda akan dimintai pertanggungan jawab oleh Alloh atas akibat dari pendapat anda yang dapat menjerumuskan orang lain. Lebih baik anda diam tidak berbicara mengenai Syiah dari pada menjerumuskan orang lain.

  

Seorang pakar Syiah dari Pakistan, yang ahli dalam masalah Syiah dan buku karyanya dalam masalah Syiah banyak sekali, yang bernama Dr. Ihsan Ilahi Dhohir, ketika ditanyakan kepada beliau, “Apakah ada Madzhab Syiah yang Mu’tadilah (Moderat) ?.

Maka beliau menjawab, “Tidak ada”. “Orang mencaci maki Sahabat kok dikatakan Mu’tadil”. “Bagaimana dikatakan ada Madzhab Syiah yang Mu’tadilah, sedang didunia ini tidak ada Madzhab Syiah yang tidak mencaci maki para Sahabat. Kalau dia tidak mencaci maki Sahabat, maka berarti dia Sunni, bukan Syi’i “.

Kemudian beliau balik bertanya, “Kalau ada orang mencaci maki ibu anda, bahkan dia mengatakan ibu anda telah berbuat serong, apakah anda akan mengatakan dia Mu’tadil ?.

Sedang kenyataannya, sekarang ini tidak ada kelompok Syiah baik diluar negeri maupun di dalam negeri yang tidak mencaci maki Ummul Mukminin Aisyah ra. Mana Ghiroh kita terhadap Islam dan para Sahabat serta keluarga Rosululloh SAW ?.

 

Soal : Apakah tidak sebaiknya mereka diajak dialog ?

AZA: Dialog dengan fihak Syiah itu justru merugikan kita Ahlussunnah. Sebab berdialog itu harus ada kitab kitab yang dipakai sebagai rujukan, yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Sedang kenyataannya mereka tidak mengakui keotentikan Al-Qur’an yang kita baca sekarang.

Kalau mereka dengan Tagiyyah mengakui keotentikan Al-Qur’an, maka dalam menafsirkan Al-Qur’an bertolak belakang dengan penafsiran kita. Jadi tidak bisa ketemu.

 Kemudian mengenai Hadits, mereka tidak akan menerima Hadits Hadits yang ada di Kutubus Sittah, sebab mereka mempunyai kitab kitab Hadits tersendiri, yaitu Kutubul Arba’ah, dimana kitab kitab Hadits mereka isinya berbeda dan bertentangan dengan isi kitab kitab Hadits umat Islam. Jadi kita tidak bisa ketemu dengan Syiah dalam Dialog.

Dengan demikian Dialog dengan Syiah tidak akan ada titik temunya, tapi ruginya pasti. Karena kita memberikan mimbar kita kepada mereka, dimana sebelumnya dalam berkampanye mereka melakukannya dengan cara sembunyi sembunyi. Itulah ruginya berdialog dengan kelompok Syiah.

Kalau dikatakan dengan dialog, ada satu dua orang yang kembali ke Sunni, maka perlu difahami dan disadari, berapa banyak orang Sunni yang tertarik ke Syiah gara gara melihat tokoh kita dekat dan berhubungan dengan tokoh tokoh Syiah. Jadi ruginya lebih besar dari untungnya.

 

       Sebenarnya sudah ada pengarahan dan petunjuk dari Rosululloh SAW kepada umatnya dalam menghadapi dan mengambil sikap terhadap orang-orang Syiah yang dikenal suka mencaci-maki para Sahabat. Dimana Rosululloh SAW pernah bersabda :

اِنَّ اللهَ اِخْتَارَنِى وَاخْتَارَلِى أَصْحَابِى فَجَعَلَهُمْ اَنْصَارِى وَجَعَلَهُمْ أَصْهَارِى، وَاَنَّهُ سَيَجِيْىءُ فِى اَخِرِ الزَّمَانْ قَوْمٌ يَبْغَضُوْنَهُمْ، أَلاَ فَلاَ تُؤَاكِلُوْهُمْ وَلاَ تُشَارِبُوهُمْ، أَلاَ فَلاَ تُنَاكِحُوهُمْ، أَلاَ فَلاَ تُصَلُّوا مَعَهُمْ، وَعَلَيْهِمْ حَلَّتُ اللَّعْنَةْ.

                                                           ( البيهقى )

         “Sesungguhnya Alloh telah memilih aku dan memilihkan bagiku  Sahabat-Sahabatku. Maka Allah telah menjadikan mereka sebagai pembela-pembelaku dan menjadikan mereka sebagai mertua-mertuaku dan menantu-menantuku. Kemudian kelak akan muncul satu golongan, yang membenci  (memusuhi)  mereka  (para Sahabat).  Apabila  kalian  bertemu  dengan mereka, maka janganlah makan dan minum bersama mereka dan janganlah kalian kawin dengan mereka dan janganlah sholat dengan mereka, selanjutnya laknat Allah akan menimpa mereka”.(HR Al Baihaqi)

      

Hadits diatas apabila kita jabarkan, maka yang pertama:

Hadits ini menerangkan bahwa para Sahabat yang dibenci dan dicaci-maki oleh orang-orang Syiah itu, adalah orang-orang yang dipilih oleh Alloh untuk menjadi Sahabat bagi Rosululloh SAW.

Kedua, para Sahabat itu oleh Alloh telah dijadikan sebagai penolong dan pembela bagi Rosululloh SAW, baik membela dalam perjuangan melawan orang-orang kafir maupun membela dan membantu dalam menyiarkan agama Islam.

 Ketiga, Hadits ini menunjukkan bahwa Rosululloh SAW sudah tahu, akan adanya dikemudian hari orang orang atau satu golongan yang membenci para Sahabatnya.

        Selanjutnya hadits ini berisi pengrahan dari Rosululloh SAW kepada kita agar kita tidak makan dan minum dengan mereka. Yang dimaksud adalah agar kita tidak berkumpul dengan mereka, sebab kita tidak dibenarkan bermujamalah atau berbaik-baikan dengan mereka.

 Selanjutnya Hadits ini berisi larangan dari Rosululloh SAW kepada kita, dimana agar kita tidak melakukan pernikahan (perkawinan) dengan orang orang tersebut, jelasnya orang-orang Islam dilarang nikah atau kawin dengan orang-orang Syiah yang dikenal suka mencaci-maki dan membenci para Sahabat.

Kemudian kita juga dilarang bersembahyang (berjamaah) dengan mereka, artinya kita dilarang menjadi ma’mum mereka. Tentunya dengan maksud agar sholat kita diterima oleh Alloh SWT.

Yang terakhir Hadits diatas menerangkan bahwa, laknat Alloh pasti akan mengenai orang-orang yang membenci para Sahabat.

       Selanjutnya Imam Tabrani dalam Mu’jamnya menyebutkan bahwa Rosululloh SAW pernah bersabda:

فَمَنْ سَبَّهُمْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ والملائكةِ والناسِ أَجْمَعِينْ، لاَ يَقْبَلُ الله مِنْهُ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً.

( رواه الطبرانى )

 “ Barangsiapa mencaci-maki mereka (para sahabat), maka dia akan mendapat laknat dari Allah dan Malaikat serta dari seluruh umat Islam. Seluruh amal ibadahnya, baik yang berupa amalan wajib maupun amalan sunnah, tidak akan diterima oleh Allah SWT.”    (Ath Thabrani)

Menanggapi Hadits diatas para ulama dengan tegas mengatakan: walaupun orang-orang Syiah atau orang-orang Rofidhoh itu mereka mengaku sebagai Muslim yang bersembahyang dan berpuasa, namun Alloh SWT tidak akan menerima semua amal ibadahnya. Hal mana dikarenakan kebiasaan mereka yang suka mencaci-maki dan melaknat para Sahabat. Bahkan menurut Hadits tersebut, merekalah yang dilaknat oleh Alloh dan Rasul-Nya.

Demikian pengarahan dan petunjuk dari Rosululloh SAW. kepada kita dalam menghadapi dan mengambil sikap terhadap orang-orang Syiah. Jadi bukan dengan mengajak mereka berdialog, apalagi memberikan mimbar kita kepada mereka, tapi bekot mereka. Dan kita tidak perlu gembar gembor akan membakar panggung mereka jika mereka mencaci maki para Sahabat. Sebab kita kan tidak pernah melakukannya, sedang kenyataannya di dunia ini tidak ada orang Syiah yang tidak mencaci maki para Sahabat.

Demikian wawancara kami dengan Habib Achmad bin Zein Alkaf mengenai macam ragamnya aliran Syiah. Yang beliau akhiri dengan permohonan maaf apabila ada kata katanya yang terlalu tegas. Semoga bermanfaat.

 


ASH-SHOWAAIQ EDISI  JULI  2012